Haru Pemakaman Pengungsi Suriah Korban Teror Christchurch

CNN Indonesia | Rabu, 20/03/2019 16:44 WIB
Haru Pemakaman Pengungsi Suriah Korban Teror Christchurch Suasana haru meliputi pemakaman seorang pengungsi Suriah beserta putranya yang tewas dalam teror penembakan di Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru. (Reuters/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana haru meliputi pemakaman seorang pengungsi Suriah beserta putranya yang tewas dalam teror penembakan di Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, pada hari ini, Rabu (20/3).

Nama pengungsi tersebut, Khalid Mustafa, dan anaknya, Hamza, menggema di pemakaman Muslim yang dikhususkan untuk para korban penembakan di dua masjid di Christchurch pada Jumat pekan lalu.

Doa lantas dipanjatkan sembari kedua jenazah diturunkan ke liang lahat. Sejumlah anggota keluarga pengungsi Suriah itu pun menangis.


Khalid meninggalkan seorang istri, satu putri, dan putra lainnya bernama Zaid. Anak lelaki berusia 13 tahun itu juga terluka akibat penembakan di Masjid Al Noor, lokasi insiden pertama pada Jumat lalu.
Duduk di kursi roda, Zaid mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil menangis dan berdoa bagi ayah dan kakaknya.

Satu orang yang ikut menghadiri upacara pemakaman massal tersebut, Jamil El-Biza, mengaku sempat berbincang dengan Zaid.

El-Biza mengaku mendengar Zaid berkata di depan liang lahat, "Saya seharusnya tidak berdiri di sini. Saya seharusnya berbaring di samping kalian."
Dalam pemakaman tersebut, hadir pula Abdul Aziz, pengungsi Afghanistan yang sempat melawan pelaku teror dalam penembakan kedua di Masjid Linwood. Ia disambut hangat dengan pelukan dari keluarga korban.

Alabi Lateef, yang juga sempat menghalau pelaku teror di Masjid Linwood, mengaku turut membantu mempersiapkan jasad Khalid dan Hamza agar dapat dikuburkan sesuai tradisi Islam.

"Saya membantu memandikan jenazahnya kemarin," tutur Lateef kepada AFP.

Menurut tradisi Islam, seseorang seharusnya dimakamkan dalam kurun waktu 24 jam setelah meninggal dunia. Namun, karena proses identifikasi yang memakan waktu lama, jenazah para korban baru dapat dimakamkan beberapa hari setelahnya.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah keluarga pun mengaku kecewa meski tak dapat berbuat apa-apa karena kepolisian memang membutuhkan waktu untuk autopsi.

Hingga proses penguburan hari ini, hanya enam dari 50 jasad korban yang sudah berhasil diidentifikasi.

Komisioner kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, mengatakan bahwa pihaknya berupaya melakukan autopsi secepatnya, bahkan jika bisa, semuanya rampung malam ini.

"Tak akan dapat dimaafkan jika kami mengembalikan jasad ke keluarga yang tak sesuai," kata Bush. (has/has)