Selandia Baru Larang Senapan Serbu dan Semi-Otomatis

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 11:46 WIB
Selandia Baru Larang Senapan Serbu dan Semi-Otomatis Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, saat mengunjungi keluarga korban penembakan. (New Zealand Prime Minister's Office/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, melarang penjualan senapan serbu dan semi-otomatis sebagai respons terhadap penembakan di dua masjid Kota Christchurch pada pekan lalu. Insiden itu menewaskan 50 orang termasuk seorang warga Indonesia bernama Lilik Abdul Hamid.

"Hari ini saya mengumumkan bahwa Selandia Baru akan melarang semua senjata semi-otomatis gaya militer. Kami juga melarang semua senapan serbu," ucap Ardern di Ibu Kota Wellington pada Kamis (21/3).

"Ini berarti bahwa tidak seorang pun akan dapat membeli senjata-senjata ini tanpa izin dari polisi. Saya dapat meyakinkan orang-orang bahwa tidak ada gunanya mengajukan izin (pembelian) itu," ujar Ardern.


Selain senapan serbu dan semi-otomatis, Ardern mengatakan pemerintah juga melarang penjualan magasin berkapasitas tinggi dan popor senapan khusus.
"Singkatnya, setiap senjata semi-otomatis seperti yang digunakan dalam serangan teroris pada Jumat pekan lalu akan dilarang di negara ini," papar perempuan 38 tahun itu.

Ardern mengatakan Selandia Baru juga akan menarik senjata-senjata yang selama ini telah dibeli warganya. Pemerintah, paparnya, akan membeli kembali senjata-senjata tersebut dengan harga antara NZ$100 juta hingga NZ$200 juta.

"Bagi para pemilik senjata-senjata yang telah pemerintah larang, saya mengakui bahwa banyak dari Anda akan patuhi aturan hukum. Sebagai pengakuan atas hal itu, kami akan memberikan insentif kepada mereka yang mau mengembalikan (senjata). Kami akan menggunakan skema buyback," tuturnya.

Lebih lanjut, Ardern memaparkan siapa pun yang menyimpan senjata ke depannya akan menghadapi denda hingga NZ$4.000 dan terancam tiga tahun penjara.

[Gambas:Video CNN]

"Sebagian besar warga Selandia Baru mendukung perubahan ini. Saya merasa yakin akan hal itu," ucap perempuan termuda sebagai pemimpin negara itu seperti dikutip AFP.

Brenton Tarrant, warga Australia yang mengaku dirinya sebagai penganut pemikiran supremasi kulit putih, menyiarkan aksinya di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood secara langsung melalui akun Facebook-nya.

Insiden terjadi ketika umat Islam setempat hendak melaksanakan salat Jumat.

Tak lama setelah teror itu terjadi, Ardern, yang merupakan pemimpin perempuan termuda di dunia, langsung menyatakan sikap dan simpatinya terhadap korban peristiwa itu.

Dia juga dengan cepat dan tegas menganggap peristiwa itu sebagai aksi terorisme dan bersumpah akan merevisi undang-undang kepemilikan senjata.
Sehari setelah teror terjadi, Ardern bahkan menyambangi keluarga korban penembakan dengan mengenakan hijab. Perempuan 38 tahun itu sempat memeluk dan berbicara dengan para keluarga korban.

Sejak itu, nama Ardern terus menarik perhatian publik lantaran dianggap berhasil menangani serangan teror yang belum pernah terjadi di Selandia Baru itu secara tepat. (rds/ayp)