Musyawarah Parlemen Inggris Bahas Usulan Brexit Masih Buntu

CNN Indonesia | Kamis, 28/03/2019 10:03 WIB
Musyawarah Parlemen Inggris Bahas Usulan Brexit Masih Buntu Ilustrasi pemungutan suara Brexit di Parlemen Inggris. (Reuters TV via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Musyawarah parlemen Inggris yang mengambil alih pembahasan persyaratan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) malah berujung kebuntuan. Proses pemungutan suara tidak berhasil meraih mayoritas setelah Dewan Perwakilan menolak seluruh opsi yang dibahas.

Seperti dilansir The Guardian, Kamis (28/3), delapan persyaratan Brexit yang dibahas di parlemen sama sekali tidak ada yang disetujui. Yang nyaris disepakati hanya soal upaya negosiasi secara permanen dan menyeluruh antara bea cukai Inggris dan Uni Eropa.
Hasil pemungutan suara untuk kesepakatan bea cukai Brexit yakni 272 suara menolak dan 264 anggota parlemen yang mendukung. Salah satu anggota parlemen dari fraksi Konservatif, Oliver Letwin, menyatakan kecewa dengan hasil itu. Dia berharap dalam pemungutan suara lanjutan yang dijadwalkan digelar Senin pekan depan akan memperoleh hasil yang lebih baik.

Menteri Urusan Brexit, Stephen Barclay, menyatakan hasil pembahasan opsi Brexit oleh parlemen Inggris memperlihatkan sebenarnya usulan yang sudah diajukan Perdana Menteri Theresa May sudah paling tepat dan merupakan yang terbaik.


"Ini menunjukkan tidak ada pilihan dan jalan yang mudah di sana," kata Barclay.

Parlemen sebenarnya mengajukan 15 persyaratan Brexit, tetapi Ketua Parlemen John Bercow memangkasnya hanya menjadi delapan usulan.
Selain soal bea cukai, usulan persyaratan Brexit yang juga nyaris disetujui adalah soal perlunya diadakan referendum untuk mengkonfirmasi untuk setiap kesepakatan Brexit. Usulan ini didukung 268 anggota parlemen, dan ditolak 295 anggota lainnya.

Usul soal Brexit yakni mempertahankan Inggris sebagai anggota Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (Efta) Kawasan Ekonomi Eropa (EEA) juga hanya didukung 188 anggota parlemen, dan 283 menolak.

May lantas menawarkan pengunduran diri dengan harapan parlemen Inggris menyepakati poin-poin perjanjian yang ditawarkan dalam negosiasi Brexit. Sebab, waktu untuk memutuskan soal Brexit semakin sempit dan Uni Eropa juga terus menekan meminta kepastian.

"Saya tahu muncul keinginan untuk pendekatan baru dan juga kepemimpinan baru pada fase kedua negosiasi Brexit, dan saya tidak akan menghalangi," kata May di depan pertemuan dengan anggota parlemen dari Partai Konservatif.

"Tapi kami perlu mewujudkan kesepakatan dan membuat Brexit ini terjadi. Saya siap untuk meninggalkan jabatan ini lebih awal untuk melaksanakan yang benar bagi negara dan partai kami."

[Gambas:Video CNN]

Sebab, Uni Eropa juga sudah menetapkan persyaratan dan memberikan keleluasaan kepada Inggris untuk bisa menunda keputusan Brexit, tetapi tentu ada konsekuensi yang harus ditanggung. (ayp/ayp)