Parlemen Inggris Tolak Lagi Usul Brexit PM Theresa May

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 21:54 WIB
Parlemen Inggris Tolak Lagi Usul Brexit PM Theresa May Perdana Menteri Inggris, Theresa May. (REUTERS/Henry Nicholls)
Jakarta, CNN Indonesia -- Parlemen Inggris untuk ketiga kalinya menolak usulan skema yang diajukan Perdana Menteri, Theresa May, untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Padahal ini adalah upaya terakhir May untuk menghindari kekacauan Brexit, yang tinggal menghitung hari.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (29/3), May kalah dalam pemungutan suara di parlemen. Usulnya hanya didukung oleh 286 anggota parlemen. Sedangkan 344 lainnya menolak.

May sempat berjanji akan mundur jika usulannya yang diajukan hari ini disetujui oleh parlemen, untuk mengakhiri keanggotaan Inggris di Uni Eropa selama 46 tahun.
Alasan May kembali mempertaruhkan usulannya soal Brexit, meski tidak yakin akan diloloskan. Dia beralasan hanya ingin menjaga supaya ekonomi dan nilai tukar mata uang Poundsterling tidak jatuh, jika mereka benar-benar meninggalkan Uni Eropa.


"Saya mendorong semua anggota parlemen mendukungnya dan memastikan kita meninggalkan Uni Eropa, serta memberikan kepastian kepada masyarakat dan dunia usaha," kata perwakilan pemerintah Andrea Leadsom, saat membacakan usulan May di hadapan parlemen.

May berharap pemungutan suara ketiga di masa-masa kritis jelang Brexit bisa mengubah pendapat sejumlah anggota parlemen yang selama ini menentangnya.
Pemerintahan May saat ini tidak punya pendukung di parlemen. Bahkan mitra koalisi minoritasnya, Partai Uni Demokratik (DUP) di Irlandia Utara tetap menolak usulan skema Brexit yang dia tawarkan.

DUP tetap mendesak supaya perbatasan antara Republik Irlandia dan Irlandia Utara terbuka meski Inggris keluar dari Uni Eropa.

Jika proposal yang diajukan May disepakati parlemen Inggris, maka Brexit akan berlangsung 22 Mei, tapi jika tidak, maka May akan menghadap Uni Eropa sebelum 12 April untuk menjelaskan langkah-langkah Inggris selanjutnya.

Salah satu keputusan penting yang harus diambil adalah mengenai hubungan antara Inggris dan Uni Eropa di masa depan.

Sebelumnya, May terus menekankan kepentingan Inggris untuk tetap menjalin hubungan ekonomi sedekat mungkin dengan Uni Eropa.

[Gambas:Video CNN]

Namun, sejumlah pihak ingin Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apa pun, satu langkah yang memicu kekhawatiran para pebisnis. Uni Eropa kini mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi Brexit tanpa kesepakatan (no deal) pada 12 April mendatang.

Presiden Majelis Eropa, Donald Tusk, sudah menetapkan waktu untuk mengundang para anggota berunding mengenai situasi terakhir Brexit.

"Setelah Kesepakatan Pengunduran ditolak Majelis Rendah, saya memutuskan untuk menggelar rapat Majelis Eropa pada 10 April mendatang," kata Tusk. (ayp/ayp)