Sikapi Brexit, Uni Eropa akan Gelar Pertemuan Darurat

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 23:11 WIB
Sikapi Brexit, Uni Eropa akan Gelar Pertemuan Darurat Ilustrasi. (REUTERS/Henry Nicholls)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uni Eropa memanggil para pemimpin negara anggota mereka untuk hadir dalam pertemuan luar biasa guna menyikapi hasil pemungutan suara parlemen Inggris soal keluarnya negara tersebut dari kesatuan mereka (Brexit)

Sebagai informasi, parlemen Inggris untuk ketiga kalinya menolak usulan skema yang diajukan Perdana Menteri, Theresa May, untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Padahal ini adalah upaya terakhir May untuk menghindari kekacauan Brexit, yang tinggal menghitung hari.

Uni Eropa menyatakan bahwa hasil di parlemen Inggris tersebut kemungkinan akan membawa negara tersebut keluar dari kesatuan mereka pada 12 April tanpa kesepakatan Brexit.


"Mengingat penolakan Perjanjian Penarikan oleh House of Commons, saya telah memutuskan untuk memanggil Dewan Eropa pada 10 April," ucap Donald Tusk, kepala Dewan Eropa seperti dikutip dari AFP, Jumat (29/3).


Hampir segera setelah parlemen Inggris memilih untuk menolak perjanjian penarikan, seorang pejabat Dewan Uni Eropa mengatakan Brexit akan ditunda hingga 12 April, seperti yang diputuskan pada pertemuan puncak pekan lalu.

Perdana Menteri Inggris Theresa May diperkirakan akan menyusun rencana alternatif untuk Brexit yang tertib. Ia akan diminta untuk menyerahkan rencana tersebut kepada 27 pemimpin negara anggota Uni Eropa dalam KTT darurat tersebut.

"Kami mengharapkan Inggris untuk menunjukkan jalan ke depan sebelum itu, baik pada waktunya bagi Dewan Eropa untuk mempertimbangkan," kata sumber Dewan, menambahkan bahwa May akan diundang ke "awal pertemuan."

Secara terpisah, seorang juru bicara Komisi Eropa - eksekutif blok - meningkatkan tekanan pada London untuk datang dengan rencana Brexit tertib dan memperingatkan perceraian yang mendadak.

"Skenario 'tanpa kesepakatan' pada 12 April sekarang merupakan skenario yang mungkin. UE telah mempersiapkan hal ini sejak Desember 2017 dan sekarang sepenuhnya siap untuk skenario tanpa kesepakatan pada tengah malam pada 12 April," katanya.

[Gambas:Video CNN] (AFP/agt)