Mahathir Buka Prospek Malaysia Jual Lahan Demi Bayar Utang

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 16:42 WIB
Mahathir Buka Prospek Malaysia Jual Lahan Demi Bayar Utang Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tak menutup kemungkinan untuk menjual lebih banyak aset negara, termasuk pulau, demi mengurangi utang nasional. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri MalaysiaMahathir Mohamad, tak menutup kemungkinan untuk menjual lebih banyak aset-aset negara, termasuk lahan, demi mengurangi utang nasional.

"Kami masih memiliki sejumlah aset lainnya. Bahkan, kami mungkin, jika perlu, menjual tanah milik pemerintah," ucap Mahathir kepada wartawan di gedung parlemen, Kamis (4/4).

Namun, Mahathir memastikan aset-aset negara terutama lahan, akan dijual kepada warga Malaysia, bukan pihak asing.


"Tapi, tentu saja kami akan menjualnya kepada orang Malaysia, bukan kepada orang asing. Ini akan membantu mengurangi utang," ucap Mahathir.
Mahathir mengatakan pemerintah juga masih melihat potensi untuk mengurangi jumlah utang negara melalui penjualan aset-aset pemerintah lainnya.

"Jadi saat ini proses sedang berlangsung, tidak statis. Ini (utang negara) sedang diturunkan, sedang dikerjakan setiap saat. Saya tidak bisa memberikan angka yang tepat, tetapi saya percaya sudah ada pengurangan cukup banyak," ujar Mahathir seperti dikutip The Straits Times.

Rencana penjualan serta likuidasi aset negara ditentang sejumlah oposisi pemerintah. Mahathir tak banyak menggubris oposisinya dan hanya mengatakan "mereka bisa menentang, tapi bukan mereka yang berkuasa di sini."

"Selama masa mereka (berkuasa), mereka tidak menentang penjualan tanah kepada orang asing. Sekarang hanya mereka yang ingat," kata Mahathir.
Baru-baru ini pemerintah Malaysia berhasil menjual sebuah kapal pesiar kelas menengah (yacht) bernama Equanimity senilai US$126 juta atau Rp1,7 triliun. 

Kapal itu menjadi milik negara setelah disita Negeri Jiran karena diduga dibeli dengan uang hasil korupsi dana lembaga investasi 1 Malaysia Development Berhad (1MDB).

Equanimity disita Indonesia di perairan Bali pada Februari 2018 lalu atas permintaan Amerika Serikat sebagai bagian dari penyelidikan skandal korupsi jutaan dolar 1MDB. Kasus tersebut turut menjerat mantan PM Najib Razak. 

Indonesia menyerahkan yacht itu kepada Malaysia pada Agustus 2018. Sejak itu, Negeri Jiran berupaya menjual kapal mewah tersebut.



Mahathir menyalahkan pemerintahan Najib telah membebani Malaysia dengan utang senilai lebih dari 1 triliun ringgit atau setara Rp3.473 triliun.

Dalam kesempatan itu, Mahathir juga menyebut pemerintah Malaysia telah memulihkan uang negara yang lari ke Singapura, meski tak merinci jumlahnya.

"Kami telah memulihkan cukup banyak uang hilang, yang disimpan oleh Singapura sehingga uang-uang itu membantu mengurangi utang," ujarnya.

Ketika ditanya apakah uang tersebut terkait dengan skandal 1MDB, Mahathir berkata, "Saya harus bertanya kepada Menteri Keuangan Malaysia. Dia memiliki data yang lebih baik dari saya soal ini." (rds/has)