Amerika Akan Evaluasi Boeing 737 Max dengan Negara Lain

CNN Indonesia | Minggu, 21/04/2019 02:17 WIB
Amerika Akan Evaluasi Boeing 737 Max dengan Negara Lain Ilustrasi penerbangan boeing. (AFP/Getty Images/Joe Raedle)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (AS) berencana melakukan analisa bersama negara-negara lain atas sistem kontrol pesawat Boeing tipe 737 Max.

Seperti dikutip dari AFP, para pakar yang dilibatkan setidaknya berasal dari sembilan badan penerbangan sipil negara lain.

Pengkajian kembali secara bersama-sama itu rencananya digelar pada 29 April mendatang. Dan, diperkirakan memakan waktu 90 hari.


FAA mengumumkan, "Untuk melakukan evaluasi atas aspek-aspek dari sistem kontrol penerbangan otomatis 737 Max, termasuk pada desain dan interaksi pilot dengan sistem, untuk menentukan kepatuhannya terhadap semua peraturan yang berlaku, dan untuk mengidentifikasi peningkatan di masa depan yang mungkin diperlukan."


Sistem yang terpasang pada 737 Max diyakini sebagai faktor terjadinya kecelakaan pesawat Lion Air tujuan Belitung terjatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018. Sebanyak 189 orang yang berada di dalam pesawt itu.

Pola kecelakaan penerbangan sama juga terjadi pada pesawat Ethiopian Airlines yang membawa 157 orang pada 10 Maret 2019. Dua kecelakaan pesawat itu sama-sama terjadi beberapa saat setelah take-off atau lepas landas.

Akibat dua peristwa tersebut, Boeing yang notabene-nya pemain besar pabrikan pesawat pun mengalami pukulan bisnis.

Hampir di seluruh dunia, berkaca pada kecelakaan di Karawang dan Ethiopia, telah mengeluarkan kebijakan dilarang terbang alias grounded pada Boeing 737-Max.

Nantinya, tim evaluasi bersama atas Boeing yang dibentuk FAA akan dipimpin mantan kepala Dewan Keselamatan Transportasi AS, Chris Hart. Selain itu, akan ada pula pakar dari FAA dan NASA.

Sementara itu, negara-negara yang akan dilibatkan dalam analisis ulang itu adalah Australia, Brasil, Kanada, China, Uni Eropa, Jepang, Indonesia, Singapura, dan Uni Emirat Arab.

(AFP/kid)