Korban Tewas Teror Bom Sri Lanka Jadi 310 Orang

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 11:37 WIB
Korban Tewas Teror Bom Sri Lanka Jadi 310 Orang Lokasi serangan bom di Sri Lanka. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korban tewas serangan bom beruntun di tiga kota Sri Lanka selama perayaan Hari Paskah kemarin bertambah menjadi 310 orang. Juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera, mengatakan beberapa di antara korban tewas itu sempat kritis karena luka serius, lalu meninggal.

Gunasekera mengatakan selain ratusan tewas, sedikitnya 500 orang ikut terluka dalam serangan bom yang terjadi di delapan tempat terpisah pada Minggu (21/4) pekan laluitu.

Empat bom pertama meledak sekitar pukul 08.45 waktu lokal di empat lokasi berbeda, yakni Hotel Shangri-La di pusat Kota Kolombo, Hotel Kingsbury, Gereja St Anthony di Kochchikade, dan Gereja Katolik St. Sebastian di Negombo.


Serangan paling mematikan dikabarkan terjadi di Gereja St Sebastian di Negombo. Sejumlah gambar yang tersebar di media sosial menunjukkan selain berserakan puing-puing bangunan, lantai gereja juga berlumuran darah.
Ledakan di Gereja St Anthony terjadi ketika misa Paskah berlangsung. Berselang lima menit, bom lainnya menerjang Hotel The Cinnamon Grand. Sekitar pukul 09.05, ledakan keenam terjadi di Gereja Katolik Zion Roman di Batticaloa.

Ledakan ketujuh terjadi di New Tropical Inn sekitar pukul 13.45 waktu lokal. Penginapan itu berdekatan dengan kebun binatang nasional Sri Lanka.

Ledakan terakhir menerjang sebuah rumah di Dematagoda, Kolombo, saat razia polisi berlangsung. Tiga aparat keamanan dilaporkan tewas dalam ledakan itu.

Bom kembali meledak di dekat Gereja St. Anthony pada Senin (22/4) sore. Saksi Reuters melaporkan ledakan terjadi saat tim penjinak (STF) melucuti bom yang disimpan di dalam sebuah mobil yang terparkir di dekat gereja.
Dikutip AFP, Gunasekera mengatakan sejauh ini ada 40 orang yang telah ditangkap kepolisian lantaran diduga terlibat serangan bom beruntun tersebut.

Meski belum ada kelompok yang mengklaim, pemerintah Sri Lanka meyakini serangan paling mematikan selama satu dekade terakhir itu dilakukan oleh kelompok ekstremis setempat, Jemaah Tauhid Nasional (NTJ).

Pemerintah Sri Lanka masih menyelidiki kemungkinan hubungan NTJ dengan organisasi internasional.

Tidak banyak informasi mengenai NTJ, baik dari struktur lembaga hingga jumlah anggotanya.

Laporan intelijen Sri Lanka menyatakan mereka mulai tumbuh sejak 2016, dipimpin ustaz Muhammad Zaharan.

[Gambas:Video CNN]

NTJ diduga pecahan dari kelompok Jemaah Tauhid Sri Lanka (SLTJ), yang bercorak garis keras dan berbasis di wilayah Kattakundy, di pesisir timur negara itu. Namun, mereka menyangkal hal itu dan tidak terlibat dalam aksi teror, serta justru menentang sepak terjang NTJ. (rds/ayp)