Korban Tewas Perang Saudara Libya Mencapai 264 Orang

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 07:03 WIB
Korban Tewas Perang Saudara Libya Mencapai 264 Orang Ilustrasi perang di Libya. (REUTERS/Goran Tomasevic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan warga sipil dilaporkan meninggal akibat perang saudara yang kembali berkecamuk di Libya. Di samping itu, konflik bersenjata juga membuat 1,266 penduduk terluka.

Seperti dilansir AFP, Kamis (25/4), Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan korban meninggal dalam perang saudara mencapai 264 orang, termasuk 21 warga sipil. Mereka mendesak kedua belah pihak yang tengah bertikai untuk tidak menjadikan warga sipil sebagai target serangan.

"Harus ada tekanan terhadap semua pihak supaya menghormati warga sipil. Setiap negara yang punya pengaruh harus menggunakannya untuk menekan dan memastikan warga sipil tidak terlalu terdampak perang," kata Koordinator Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Libya, Maria do Valle Ribeiro.


Menurut Maria, jumlah itu adalah sementara karena pertikaian masih berlangsung. Dia mengatakan sejak perang saudara pecah pada 4 April lalu, sekitar 32 ribu warga Kota Tripoli mengungsi.
"Jumlah penduduk yang mengungsi terus bertambah setiap hari," ujar Maria.

Di sisi lain, pasukan pemerintah Libya yang didukung PBB (GNA) memukul mundur Pasukan Nasional Libya (LNA) dipimpin Jenderal Khalifa Haftar sejauh 60 kilometer dari Tripoli. Namun, pertempuran masih terjadi di daerah pinggiran kota.

Suara ledakan bom juga masih terdengar dari pusat Kota Tripoli. Haftar diduga kuat ingin menguasai Libya dan mengangkat dirinya menjadi pemimpin. Hal ini bisa berdampak buruk karena penduduk di negara itu sudah sangat terbelah dengan masalah politik dan kesukuan.

Sejak pasukan pemberontak yang didukung Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berhasil menumbangkan mendiang pemimpin Libya, Muammar Khadafi, pada 2011, negara itu justru kacau balau. Faksi pemberontak dan loyalis Khadafi masing-masing membentuk pemerintahan di Tripoli dan Benghazi.
Haftar yang didukung Rusia mempunyai pasukan menguasai wilayah timur dengan pusat pemerintahan di Benghazi.

Pemerintahan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj di Tripoli pun tidak efektif. Sebab, dia tidak mampu menjaga wilayahnya karena sejumlah suku mempersenjatai diri dan bertikai untuk menguasai ladang-ladang minyak. Di samping itu beberapa kelompok bersenjata saling serang memperebutkan banyak hal.

Sejumlah persenjataan pasukan Libya di masa mendiang Khadafi juga dicuri dan dijual di pasar gelap. Karena konflik terus-terusan terjadi, juga menjadi lahan subur kelompok bersenjata dan persembunyian teroris seperti ISIS, Libya dianggap sebagai negara gagal (failed state).


(ayp/ayp)