Seorang warga Yaman, Muhammad Abkar, hanya bisa bersedih ketika mengingat kehidupannya. Dia, seperti penduduk sipil lainnya, terpaksa berpuasa dan beribadah di pengungsian.
Abkar dan keluarganya kini bermukim di kamp pengungsian Khokha. Kamp itu terletak sekitar 130 kilometer dari kota Hudaida, dikendalikan oleh pasukan pemerintah Yaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abkar hanya bisa pasrah. Sebagai penyandang disabilitas dia membawa istri dan tiga anaknya, yang semuanya difabel, pergi ke tempat lebih aman berbekal beberapa helai pakaian.
"Kalau kami masih di rumah, kita selalu menyediakan banyak makanan ketika Ramadhan, seperti sup dan yogurt, tetapi tahun ini kami harus mengungsi. Kami tetap sabar dan berserah diri kepada Allah S.W.T.," ujar Abkar.
Banyak tetangga Abkar berusaha kembali ke rumah mereka. Namun, mereka harus kembali ke pengungsian karena khawatir terjebak di tengah pertempuran.
Perang Yaman membuat 3,3 juta warga mengungsi, dan 24,1 juta lainnya dalam kesulitan. Mereka kelaparan dan butuh obat-obatan serta bahan pokok lain.
[Gambas:Video CNN]
Hudaida adalah kota pelabuhan yang diperebutkan oleh kedua belah pihak. Meski sudah meneken gencatan senjata di Swedia pada tahun lalu, tetapi rentetan tembakan dan serangan mortir atau artileri masih terjadi saban hari. Bahkan memasuki Ramadhan, konflik seakan tak mau reda.
"Ramadhan kali ini penuh serangan mortir, kami berharap keadaan tidak memburuk," kata warga Hudaida, Hoda Ibrahim (39).
Hingga akhir 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat 56 ribu orang tewas dalam perang sipil di Yaman. (ayp)