Iran Ancam Tak Penuhi Kesepakatan Nuklir, Rusia Salahkan AS

CNN Indonesia | Rabu, 08/05/2019 18:28 WIB
Iran Ancam Tak Penuhi Kesepakatan Nuklir, Rusia Salahkan AS Rusia menyalahkan AS atas ancaman Iran untuk melanjutkan program pengayaan uranium yang seharusnya dihentikan berdasarkan kesepakatan nuklir pada 2015 lalu. (AFP Photo/Maxim Shemetov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia menyalahkan Amerika Serikat atas ancaman Iran untuk melanjutkan program pengayaan uranium yang seharusnya dihentikan berdasarkan kesepakatan nuklir pada 2015 lalu.

Kremlin menganggap Teheran memutuskan menarik kembali sejumlah komitmennya terhadap perjanjian nuklir 2015 lantaran tekanan eksternal dari Washington.

"Presiden (Putin) telah berulang kali mengatakan konsekuensi dari langkah yang tidak dipikirkan dengan matang mengenai Iran yakni keputusan yang diambil oleh Washington untuk keluar dari perjanjian nuklir. Sekarang kita lihat konsekuensi tersebut mulai terjadi," ucap juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Rabu (8/5).


Komentar itu diutarakan Peskov ketika pertemuan antara Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, sedang berlangsung.
Peskov menegaskan Rusia tetap akan menjaga kesepakatan tersebut. Ia menuturkan diplomat Rusia tengah melakukan seluruh cara guna menyelamatkan perjanjian tersebut.

Sejauh ini, Kremlin belum memutuskan apakah siap bergabung dengan negara lain dalam menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran menyusul keputusan Rouhani.

"Untuk saat ini, kami perlu menganalisis situasi dengan serius dan bertukar pandangan tentang ini. Situasinya sangat serius," ucapnya seperti dikutip Reuters.
Komentar itu diutarakan Peskov merespons keputusan Presiden Hassan Rouhani yang berencana melanjutkan pengayaan uraniumnya lagi jika pihak-pihak penandatangan kesepakatan nuklir 2015 tak membela Teheran dari sanksi sepihak AS.

Melalui pidato di stasiun televisi nasional, Rouhani melontarkan langsung ancaman tersebut kepada negara-negara yang menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA, yakni Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia.

Rouhani memberikan waktu 60 hari bagi kelima negara tersebut untuk berjanji melindungi sektor minyak dan perbankan Iran di tengah sanksi AS.

"Jika kelima negara tersebut datang ke meja perundingan dan kami mencapai kesepakatan itu, dan jika mereka dapat melindungi kepentingan sektor minyak dan perbankan kami, kami akan tetap melanjutkan komitmen," ujar Rouhani.

[Gambas:Video CNN]

Perjanjian yang diteken pada 2015 lalu itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. 

Sebagai balasan, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk dengan pengayaan uranium.

Namun, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran. (rds/has)