Sisa-sisa Jasad Korban Nazi Dimakamkan di Berlin

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 18:03 WIB
Sisa-sisa Jasad Korban Nazi Dimakamkan di Berlin Monumen pembantaian kaum Yahudi (holocaust) oleh Nazi di Berlin, Jerman. (AFP PHOTO / JOHN MACDOUGALL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 300 bagian kecil jasad manusia yang dulunya tahanan politik dan pejuang yang dieksekusi Nazi dikebumikan pada Senin (13/5) di pemakaman Berlin, Jerman. Temuan ini terkuak setelah lebih dari tujuh dekade berlalu sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Sejumlah bagian tubuh dengan ukuran manusia dengan ukuran seperseratus milimeter sampai satu sentimeter tersebut diletakkan di piring kaca mikroskopis oleh keturunan ketiga dari professor anatomi Herman Stieve.

Stieve yang menjabat sebagai direktur Institusi Anatomi Berlin sejak 1935 hingga 1952 telah melakukan pembedahan dan penelitian terhadap tubuh para tahanan, termasuk di antaranya 42 pejuang perlawanan dari Orkestra Merah yang terbunuh di penjara Berlin Ploetzensee.


"Dengan menguburkan bagian-bagian tubuh tersebut, kami ingin mengembalikan martabat para korban," ujar Kepala Rumah Sakit Universitas Berlin Charite, Karl Max Einhaeupl.
Sebelum jasad-jasad tersebut dimakamkan di pemakaman Berlin Dorotheenstadt, sanak keluarga para korban terlebih dulu menghadiri upacara keagamaan.

Sampel jenazah yang dimakamkan tersebut merupakan sisa-sisa terakhir dari para korban kekejaman Nazi. Pada masa itu, mereka sempat ditolak untuk dimakamkan. Oleh karena itu, penguburan pada saat ini menjadi suatu keharusan.

"Sekarang saya tahu di mana saya dapat berziarah, karena ibu saya dieksekusi pada 13 Mei 1943, dan kami selalu pergi ke Ploetzensee (untuk mengenangnya). Tapi itu bukan tempat yang benar-benar baik untuk mengenangnya, setidaknya tidak untuk jiwa saya. Saya sekarang senang bisa datang ke sini," ungkap Saskia von Brockdorff (81), anak mendiang Eriko von Brockdorff yang tewas di Ploetzensee.

Setidaknya lebih dari 2,800 tahanan di penjara Berlin-Ploetzensee meninggal dipancung dan digantung sekitar 1933 hingga 1945. Kebanyakan dari mereka juga dikirim ke Institusi Anatomi Berlin untuk dijadikan bahan pembedahan.
Menurut pengakuan Andreas Winkelmann selaku suruhan dari keturunan profesor Stieve, Nazi mengirimkan tubuh para tahanan tersebut kepada Stieve untuk dibedah "bukan karena mereka mendukung penelitian Stieve, melainkan sebagai cara untuk mempermalukan para korban."

"Hal itu juga menjadi cara untuk menghindarkan para korban untuk dimakamkan," tambahnya.

Selain itu, Winkelmann juga mengatakan belum jelas berapa total jasad individu yang bagin tubuhnya ditemukan tersebut. Setidaknya ada sekitar 20 bagian tubuh yang teridentifikasi, selebihnya tidak.

Namun demikian, Stieve tidak pernah dihukum atas perbuatannya. Ia bahkan melanjutkan karir medisnya setelah perang, sama seperti ilmuwan lain yang bekerjasama dengan Nazi.
Rezim Nazi pimpinan Adolf Hitler berusaha untuk membuang jasad para tahanan yang dieksekusi di pemakaman massal tanpa jejak. Hal itu dilakukan agar lokasi tersebut tidak dijadikan tempat ziarah oleh keluarga korban serta menghindari munculnya demonstrasi politik. (ajw/ayp)