RI Akan Dampingi WNI Terduga Teroris di Malaysia Jika Butuh

CNN Indonesia | Kamis, 16/05/2019 18:18 WIB
RI Akan Dampingi WNI Terduga Teroris di Malaysia Jika Butuh Ilustrasi. (Pixabay/Succo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Luar Negeri RI membuka kemungkinan memberikan pendampingan terhadap seorang warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap di Malaysia pada awal pekan ini karena diduga merencanakan aksi teror.

Juru Bicara Kemlu RI, Arrmanatha Nasir, mengatakan bahwa kemungkinan ini terbuka setelah Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur mendapatkan verifikasi bahwa orang yang ditangkap tersebut seorang WNI.

"Karena itu, jika yang bersangkutan membutuhkan pendampingan atau bantuan hukum, tentu merupakan kewajiban dari KBRI untuk fasilitasi bantuan hukum terhadap WNI tersebut," katanya.


Arrmanatha tak mengungkap identitas WNI tersebut. Dia juga enggan memaparkan pengakuan dari WNI itu yang telah ditemui oleh perwakilan KBRI Kuala Lumpur.
Namun, Arrmanatha mengatakan yang bersangkutan telah berada di Malaysia sejak 2017 dan bekerja di beberapa tempat.

"Yang bersangkutan telah berada di Malaysia sejak 2017 dan pernah bekerja di kebun serta ladang. Saat ditangkap kemarin, WNI tersebut sedang bekerja di sebuah pabrik seng sudah sejak sebulan terakhir ini," tutur Arrmanatha.

Arrmanatha mengatakan hingga kini pemerintah masih menunggu hasil investigasi aparat Malaysia dan tuduhan yang dijatuhkan kepada WNI tersebut.
Sementara itu, Polri juga masih mendalami WNI tersebut memiliki keterlibatan dengan kelompok teroris di Indonesia atau tidak.

Selain itu, Polisi Diraja Malaysia (PDRM) juga menangkap dua etnis Rohingya dan seorang warga asli Negeri Jiran.

Menurut Kepala PDRM, Abdul Hamid Bador, kelompok itu diduga hendak melakukan serangan teror sebagai balasan atas kematian seorang petugas pemadam kebakaran Muslim di Negeri Jiran baru-baru ini. 

Personel pemadam kebakaran itu tewas setelah dianiaya hingga meninggal dalam peristiwa kerusuhan terkait penggusuran pura Hindu setempat.

"Sel teroris ini juga menargetkan serangan kepada pejabat tinggi karena menghina dan gagal menjaga marwah Islam," kata Hamid, seperti dilansir Reuters.
Hamid tidak merinci sasaran kelompok itu. Dia hanya menyatakan aparat menyita sebuah senjata api dan enam bom rakitan dari para tersangka.

Salah satu orang Rohingya berusia 20 tahun yang ditangkap itu mengaku sebagai pendukung kelompok Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA). 

ARSA adalah kelompok yang dianggap pemerintah Myanmar bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap aparat di negara bagian Rakhine.

Terduga teroris itu juga mempunyai kartu Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR). (rds/has)