Kisruh Brexit, PM Inggris Akan Umumkan Hari Pengunduran Diri

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 15:20 WIB
Kisruh Brexit, PM Inggris Akan Umumkan Hari Pengunduran Diri PM Inggris, Theresa May, diperkirakan akan mengumumkan hari pengunduran dirinya di saat negosiasi Brexit terus menemui jalan buntu. (Reuters/Jack Taylor/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Inggris, Theresa May, diperkirakan akan mengumumkan hari pengunduran dirinya dalam waktu dekat di saat negosiasi Brexit atau proses Inggris keluar dari Uni Eropa terus menemui jalan buntu.

Sejumlah media melaporkan bahwa May akan mengumumkan hari pengunduran dirinya itu dalam konferensi pers pada Jumat (24/5).

Setelah mengalami krisis kepemimpinan hampir tiga tahun, May dijadwalkan bertemu dengan Komite Konservatif 1922. Komite tersebut memiliki mandat memutuskan masa jabatan perdana menteri dan menentukan pengunduran dirinya.


Bendahara Komite 1922, Geoffrey Clifton-Brown, mengatakan May akan tetap menjabat sebagai PM sementara dewan tersebut memilih penggantinya.
"Akan jauh lebih teratur jika dia (May) tetap sebagai PM saat ini sementara kami menjalani proses pemilihan pemimpin Partai Konservatif yang pada akhirnya akan mengambil alih jabatan perdana menteri," kata Clifton-Brown kepada BBC seperti dikutip AFP.

Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, juga mengatakan bahwa May akan tetap menjabat sampai pemilihan pemimpin Partai Konservatif selesai yang berlangsung selama enam minggu.

Pemilihan tersebut kemungkinan akan digelar pada 10 Juni mendatang, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunjungi Inggris.

"Theresa May akan tetap menjadi PM yang akan menyambut dia (Trump), sudah sepatutnya seperti itu," kata Hunt yang enggan menjelaskan kapan May akan mundur seperti dikutip Reuters.
May, yang awalnya mendukung Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa, mengambil alih jabatan PM setelah pendahulunya, David Cameron, mengundurkan diri tak lama usai referendum Brexit berlangsung pada 2016 lalu.


Sejak mengambil alih kekuasaan, May berjanji untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa dan mempersatukan kembali pemerintah. Namun, jalan May tidak semulus itu.

May berulang kali mengalami krisis kepemimpinan hingga mosi tidak percaya karena kabinetnya dan perlemen terus berselisih terkait proses perundingan Brexit.

Kubu pemerintah dan oposisi di Inggris masih belum mendapatkan titik temu kesepakatan yang harus dicapai dengan Uni Eropa sebelum Inggris hengkang dari blok tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Di satu sisi, May ingin Inggris tetap memiliki hubungan dagang dengan Uni Eropa ketika resmi keluar, sementara pihak oposisi mendesak agar negara mereka benar-benar memutus hubungan dengan blok tersebut.

Sejauh ini, Uni Eropa telah memperpanjang tenggat waktu bagi Inggris untuk keluar dari keanggotaan sebanyak tiga kali. Jika mengacu pada konstitusi, Inggris seharusnya rampung menyelesaikan proses Brexit sejak 29 Maret lalu.

Namun, setelah dua kali mundur, Uni Eropa memberikan Inggris lagi tenggat waktu untuk menyelesaikan Brexit hingga 31 Oktober mendatang. (rds/has)