Pengganti Theresa May Dijadwalkan Menjabat Pada 20 Juli

CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 12:00 WIB
Pengganti Theresa May Dijadwalkan Menjabat Pada 20 Juli Perdana Menteri Inggris, Theresa May. (REUTERS/Neil Hall)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Konservatif yang tengah berkuasa di Inggris sudah menentukan waktu menjabat bagi pengganti Theresa May yang mengundurkan diri dari posisi perdana menteri. Mereka menyatakan sang kandidat akan resmi menduduki jabatan itu pada 20 Juli mendatang.

Ketua Partai Konservatif, Brandon Lewis, menuturkan pencalonan pemimpin partai akan dibuka hingga 10 Juni mendatang. Nantinya partai akan memilih di antara dua kandidat teratas dan hasilnya akan diumumkan sebelum masa reses parlemen musim panas tahun ini.
"Kami berharap proses ini akan selesai pada akhir Juni," kata Lewis di London pada Minggu (26/5).

Dalam pernyataannya, Lewis juga menyadari bahwa partainya akan menjadi sorotan besar dan panen kritik lantaran pemilihan ini tidak hanya dilakukan untuk menunjuk pemimpin partai, tapi juga memilih penerus pemimpin Inggris.


Menurutnya, pemilihan pemimpin partai ini merupakan tanggung jawab serius" yang akan berdampak penting bagi masa depan Inggris.

"Kami sangat sadar bahwa Partai Konservatif tidak hanya memilih orang untuk menjadi pemimpin baru partai kami, tapi juga memilih perdana menteri berikutnya," papar Lewis seperti dikutip AFP.
"Oleh karena itu, kami mengusulkan bahwa pemilihan kepemimpinan yang mendesak ini melibatkan peluang non-anggota partai dan orang-orang yang mungkin belum memilih Partai Konservatif untuk bertemu para kandidat pemimpin partai dan mengajukan pertanyaan kepada mereka," ujar Lewis.

Pemilihan pemimpin partai dilakukan menyusul keputusan May yang ingin mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif sekaligus perdana menteri pada 7 Juni mendatang. Pengumuman itu disampaikan May dalam pidato pada Jumat pekan lalu, di rumah dinasnya, Downing Street.

Salah satu faktor utama pendorong May untuk mengundurkan diri adalah negosiasi Brexit atau proses Inggris keluar dari Uni Eropa yang masih buntu.

May berulang kali mengalami krisis kepemimpinan hingga mosi tidak percaya karena kabinetnya dan parlemen terus berselisih terkait proses perundingan Brexit.

[Gambas:Video CNN]

Di satu sisi, May ingin Inggris tetap memiliki hubungan dagang dengan Uni Eropa ketika resmi keluar, sementara pihak oposisi mendesak agar negara mereka benar-benar memutus hubungan dengan blok tersebut.

Lewis menuturkan partai merasa "sedih" dengan keputusan May tapi sangat mengerti langkah yang diambil perdana menteri perempuan kedua di Inggris itu.

"Dia (May) telah memperlihatkan dedikasi, keberanian, dan keuletan yang sangat luar biasa. Dia berhasil mewujudkan kualitas terbaik pelayanan publik dan dengan keputusan ini, sekali lagi menunjukkan komitmen dan pengabdiannya untuk kepentingan nasional," ucap Lewis. (rds/ayp)