Kisah di Balik Foto Ikonis Sang Penantang Tank Tiananmen

CNN Indonesia | Selasa, 04/06/2019 10:18 WIB
Kisah di Balik Foto Ikonis Sang Penantang Tank Tiananmen Peristiwa Tiananmen tak hanya meninggalkan sejarah kelam pemerintahan China, tapi juga satu foto ikonis yang menunjukkan satu pria menantang tank militer. (Reuters/Arthur Tsang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peristiwa Tiananmen 30 tahun silam tak hanya meninggalkan sejarah kelam tentang pemerintahan China, tapi juga satu foto ikonis yang menunjukkan satu pria menantang tank militer saat demonstrasi.


"Tank Man", demikian pria anonim itu biasa dijuluki. Identitas pria itu tak pernah terungkap karena ia diamankan beberapa menit setelah beraksi memblokir tank dan kendaraan lapis baja yang siap menggempur demonstran.

Hingga kini, hanya foto ikonis hasil jepretan fotografer Associated Press, Jeff Widener, itu lah yang mengabadikan sosok pria tersebut dalam sejarah.


Foto itu diabadikan pada 5 Juni 1989, sehari setelah pasukan China mulai menggempur demonstran pro-demokrasi yang telah berada di lapangan selama lebih dari sebulan.
Widener sendiri sudah seminggu meliput aksi protes tersebut. Kala itu, ia sudah terluka ketika mengabadikan gempuran mematikan tersebut.

"Saya dipukul di kepala oleh batu pengunjuk rasa pada 4 Juni pagi hari, dan saya juga menderita flu. Jadi saya cukup sakit dan terluka ketika saya memotret 'Tank Man' dari balkon lantai enam Hotel Beijing," tutur Widener kepada CNN.

Hotel Beijing memang lokasi dengan titik pandang terbaik menuju alun-alun tempat peristiwa Tiananmen terjadi. Seorang pelajar pertukaran dari Amerika, Kirk Martsen, membantu Widener menyelinap ke hotel tersebut.

Kala itu, Widener sebenarnya sedang memfokuskan lensa kamera ke arah barisan tank di Lapangan Tiananmen, Beijing.
Kisah di Balik Foto Ikonis Sang Penantang Tank TiananmenKala itu, Jeff Widener sebenarnya sedang memfokuskan lensa kamera ke arah barisan tank di Lapangan Tiananmen, Beijing. (AFP Photo/Catherine Henriette)
Namun, pria berkemeja putih dan bercelana panjang itu tiba-tiba masuk ke dalam bidikan Widener, membawa sesuatu yang tampak seperti tas belanja.

Kepada CNN, Widener bercerita bahwa awalnya ia merasa terganggu dengan pria yang masuk ke dalam bingkai bidikannya itu. Dia berpikir bahwa pria itu justru mengacaukan komposisi bingkainya.

Dari balkon hotel, Widener menyaksikan pria itu menghadap ke tank, berdiri tepat di depannya. Tank itu berhenti dan mencoba mengelilingi pria itu. Pria itu bergerak, tapi tank-tank itu menghalangi jalannya sekali lagi.

Pada satu titik selama terkepung, pria itu naik ke atas tangki timah dan tampak berbicara kepada siapa pun yang ada di dalam.

"Saya berada sekitar setengah mil dari deretan tank sehingga saya tidak bisa mendengar banyak," kata Widener.
Pria itu akhirnya ditarik oleh pengunjuk rasa. Hingga hari ini, tidak diketahui siapa dia dan apa yang terjadi pada pria itu. Satu yang diketahui, dia menjadi simbol pembangkangan yang kuat.

Widener sendiri awalnya tak menyangka hasil jepretannya itu menjadi salah satu foto paling ikonis dalam sejarah. Ia pun merasa beruntung tetap mengabadikan momen itu sekalipun sempat mengusiknya.

Seketika, Widener menyadari bahwa ia akan menjadi incaran aparat China karena memiliki foto tersebut.

"Selalu ada risiko besar ditangkap dan disita [rol] filmnya," kata Widener.

[Gambas:Video CNN]

Martsen, siswa yang membantu Widener masuk ke Hotel Beijing, lantas memasukkan rol film "Tank Man" ke pakaian dalamnya dan menyelundupkannya keluar hotel. Foto-foto itu segera dikirim melalui saluran telepon ke seluruh dunia.

Beberapa media massa lain sebenarnya mengambil foto "Tank Man" itu, tetapi bidikan Widener adalah yang paling sering digunakan. Fotonya muncul di halaman depan surat kabar di seluruh dunia dan dinominasikan untuk Pulitzer tahun itu.

Meski mendulang pujian, Widener baru menyadari kehebatan hasil jepretannya ketika AOL menobatkan foto tersebut sebagai salah satu dari 10 gambar paling berkesan sepanjang masa.

"Itu adalah pertama kalinya saya menyadari bahwa saya telah mencapai sesuatu yang luar biasa," tutur Widener. (agn/has)