China Sebut Gempuran Tiananmen 30 Tahun Lalu Tindakan Tepat

AFP, CNN Indonesia | Senin, 03/06/2019 20:35 WIB
China Sebut Gempuran Tiananmen 30 Tahun Lalu Tindakan Tepat Menhan China menganggap tindakan pemerintah berupa pembantaian demonstran Tiananmen pada 1989 merupakan kebijakan tepat menghadapi kekacauan politik. (AFP PHOTO STAFF)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe, mengatakan bahwa gempuran pemerintah terhadap demonstran di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 1989 merupakan sebuah kebijakan yang tepat.

Tiga dekade lalu, tepatnya pada 15 April-4 Juni 1989, sebuah insiden penembakan massal dilakukan oleh militer China terhadap kerumunan demonstran mahasiswa yang berkumpul di Lapangan Tiananmen di Beijing.

Para demonstran melakukan aksi damai menuntut pemerintah atas kondisi ekonomi tak stabil dan beragam kasus korupsi, berujung aksi pro-demokrasi melawan sistem komunisme yang dianut China.
"Insiden tersebut adalah sebuah kekacauan politik dan pemerintah pusat memastikan menghentikan kekacauan tersebut yang mana adalah sebuah kebijakan politik yang benar," kata Jenderal Wei dalam sebuah forum keamanan regional di Singapura.


Berbicara di hadapan para menteri, pejabat, dan akademisi bidang pertahanan dari seluruh dunia, Wei mempertanyakan mengapa ada pihak yang masih mengatakan bahwa China "tidak menangani insiden tersebut dengan benar."

"Selama 30 tahun telah menjadi bukti bahwa China melakukan perubahan besar," kata Wei. Ia juga menambahkan bahwa akibat tindakan pemerintah tersebut, "China menikmati stabilitas dan pembangunan."

Dalam insiden Tiananmen di Beijing pada 30 tahun lalu, media asing memberitakan bahwa ratusan hingga seribu orang tewas dibantai oleh militer China di lapangan legendaris tersebut pada 4 Juni 1989.
Insiden tersebut bermula dari protes mahasiswa pada pertengahan April 1989 yang dipicu oleh kematian Hu Yaobang, sekretaris jenderal jenderal Partai Komunis yang mengundurkan diri.

Hu dipandang sebagai sosok liberal dan dipaksa mengundurkan diri dari posisinya oleh Deng Xiaoping, pemimpin revolusi Partai Komunisme China yang sekaligus pemimpin generasi kedua Mao Zedong.

Tindakan penyingkiran Hu Yaobang dianggap oleh para demonstran sebagai perlakuan tak adil. Bermula dari protes kecil, perlahan meluas dan melibatkan ribuan orang. (end)