Tensi Tinggi AS, China Eratkan Hubungan dengan Rusia

CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 01:20 WIB
Tensi Tinggi  AS, China Eratkan Hubungan dengan Rusia Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Maxim SHIPENKOV / POOL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- China dan Rusia tengah mengeratkan dukungan kerjasama di tengah tingginya tekanan Amerika Serikat (AS). Hal ini ditunjukkan dari hasil kesepakatan yang dibuat dalam kunjugnan tiga hari Presiden China Xi Jinping, Rabu (5/6).

Xi bahkan menyebut Vladimir Putin, Presiden Rusia, sebagai sahabat dekat. Kedua pimpinan negara ini menghargai eratnya hubungan kedua negara yang diungkap saat melakukan pertemuan di Kremlin.

"Presiden Putin bagi saya adalah seorang sahabat," jelas Xi kepada wartawan setelah pertemuan berlangsung.


"Kami memutuskan kami akan meningkatkan hubungan bilateral ke tingkat baru yang lebih tinggi. Meningkatkan dukungan dan bantuan mutualisme dan membawa hubungan kedua negara ke era baru," jelasnya dalam pernyataan yang diterjemahkan ke bahasa Rusia.

Presiden Putin menyatakan terima kasihnya kepada China yang sebelumnya telah meminjamkan dua panda yang kini ditempatkan di Kebun Binatang Moskow.

"Ini adalah tanda penghormatan khusus, kepercayaan khusus terhadap Rusia," terangnya. "Ketika kami membicarakan Panda, senyum selalu mengembang di wajah kami."

Kedua kepala negara menandatangani kesepakatan terkait pengembangan rekanan dan kerjasama strategis. Perusahaan besar di China dan Rusia juga menandatangani kesepakatan kerjasama.

Perusahaan Alibaba dari China, operator Rusia Megafon, grup internet Mail.ru, dan perusahaan pendanaan RDIF menandatangani kesepakatan pendanaan e-commerce.

Kepala Mail.ru Boris Dobrodeyev mengatakan perusahaan baru AliExpress Rusia akan menjadi "pemimpin e-commerce Rusia".

Perusahaan telekomunikasi Rusia MTS dan Huawei China juga menandatangani nota kesepahaman. Sementara Novatek dan Gazprombank Rusia menandatangani perjanjian dengan Sinopec untuk memasarkan gas di Cina.

Rusia saat ini tengah menghadapi sanksi dari Barat terkait tindakannya di Ukraina. Hubungan Rusia dan AS pun kini berada di titik rendah pascaperang dingin.

Sementara itu, China tengah menghadapi perang dagang dengan Amerika Serikat yang meningkatkan tarif ekspor mereka ke negara itu. (AFP/eks)