Melalui pernyataan pada Kamis (27/6), seorang pejabat Pyongyang mengatakan bahwa Korut dan AS adalah "pihak yang dapat berkomunikasi langsung" dan tidak membutuhkan Korsel sebagai penengah.
"Jika Korut ingin mengontak AS, kami dapat menggunakan jalur komunikasi yang sudah ada," ujar pejabat Korut itu melalui pernyataan kepada kantor berita KCNA, seperti dilansir AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan tersebut, pejabat itu juga mengingatkan AS bahwa Korut "tak punya banyak waktu" untuk mengadopsi pendekatan baru demi melanjutkan perundingan hingga tenggat waktu yang dipasang Kim Jong-un pada akhir tahun ini.
Selama ini, Korsel memang mengaku menjadi penengah hingga pertemuan antara Kim dan Trump dapat terlaksana pada tahun lalu, ditindaklanjuti dengan perjumpaan kedua Februari lalu.
Pertemuan pertama mereka memang dianggap sebagai keberhasilan perundingan denuklirisasi, tapi perundingan kedua mereka berakhir tanpa kesepakatan apa pun.
Lihat juga:Trump Terima 'Surat Hangat' dari Kim Jong-un |
Menurut Trump, Kim menawarkan menutup sejumlah situs peluncuran rudal dan kompleks nuklir dengan timbal balik AS mencabut sanksi atas Korut.
Sementara itu, Trump ingin Korut melucuti senjata nuklir secara keseluruhan, baru AS dapat mencabut sanksi atas negara pimpinan Kim tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Di akhir pertemuan, Trump memilih untuk tak meneken dokumen apa pun karena tidak mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi.
Sejak saat itu, Korut terus berulah hingga akhirnya kembali menguji coba rudal mereka pada bulan lalu. Namun, Trump tetap menyimpan asa denuklirisasi dan selalu menanggapi tenang ancaman Korut. (has)