Pendukung Trump Pengirim Paket Bom Divonis 20 Tahun Penjara

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 13:41 WIB
Pendukung Trump Pengirim Paket Bom Divonis 20 Tahun Penjara Ilustrasi pengadilan. (Istockphoto/Wavebreakmedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hakim pada Pengadilan Distrik New York, Amerika Serikat, memberikan vonis 20 tahun penjara kepada seorang pelaku teror, Cesar Sayoc. Sayoc yang merupakan salah satu pendukung Presiden Donald Trump terbukti bersalah mengirimkan sejumlah paket bom kepada petinggi Partai Demokrat, yakni mantan Presiden Barack Obama dan mantan calon Presiden Hillary Clinton.

"Sifat dan keadaan kejahatan itu pada hakikatnya mengerikan," kata Hakim Distrik New York, Jed Rakoff, saat membacakan pertimbangan hukum dalam amar putusan, seperti dilansir AFP, Selasa (6/8).
Sayoc adalah seorang pengantar pizza yang tinggal di dalam sebuah kendaraan. Mobilnya berlabur gambar tempel pro Trump dan anti-Demokrat.

Sayoc juga pernah bekerja menjadi disjoki kelab tari bugil dan binaraga. Dia mengaku bersalah pada Maret lalu atas 65 dakwaan terkait teror 16 paket bom yang dia kirimkan dari kantor pos di Negara Bagian Florida, kepada sejumlah tokoh Partai Demokrat dan kantor perwakilan CNN di Manhattan, New York.


Lelaki berusia 57 tahun itu mengakui membuat bom rakitan dari pipa paralon diisi dengan campuran mercon dan pecahan kaca, dan alat picu dari jam digital dan kabel.

Putusan hakim itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta Sayoc dipenjara seumur hidup. Namun, kuasa hukumnya, Ian Marcus Amelkin, meminta hakim menjatuhkan putusan 10 tahun penjara bagi kliennya.
Amelkin mengklaim Sayoc menjadi terobsesi dengan Trump akibat paranoid dan tidak bisa berpikir rasional sebagai efek ketergantungan steroid yang dia konsumsi bertahun-tahun.

"Karena Tuan Sayoc mengalami gangguan kejiwaan, hal itu sangat mempengaruhinya dan menjadikannya amat mengidolakan presiden," kata Amelkin.

Meski demikian, Hakim Rakoff membantah argumen kuasa hukum dan menyatakan memang berniat menyakiti dan bukan cuma sekedar menakuti.

Sayoc ditangkap polisi di Florida pada Oktober 2018, lima hari setelah penemuan paket bom di rumah tokoh Partai Demokrat, George Soros, di New York. Dari hasil penyelidikan, aparat menemukan sidik jari dan jejak DNA Sayoc dalam paket itu.

Sayoc juga mempunyai catatan kejahatan sejak 1991. Yakni pencurian, penipuan, kekerasan, hingga ancaman meledakkan tempat bekerja sebelumnya.

[Gambas:Video CNN]

"Saya akan meminta maaf kepada seluruh korban di sisa hidup saya," kata Sayoc dalam sidang. (ayp/ayp)