Menlu Iran Mengaku Dijatuhi Sanksi karena Tolak Undangan AS

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 21:00 WIB
Menlu Iran Mengaku Dijatuhi Sanksi karena Tolak Undangan AS Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. (REUTERS/Ahmed Saad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menyatakan bahwa dia dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat setelah menolak undangan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Juli lalu.

Dilansir CNN, Zarif mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada Senin (5/8) kemarin bahwa ia sempat bertemu dengan sejumlah senator dan anggota kongres AS dalam kunjungannya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan lalu.

Zarif mengaku sempat diberi tahu bahwa akan terbebas dari sanksi jika mau menerima undangan ke Gedung Putih.


"Dalam kunjungan saya ke New York, saya diperingatkan bahwa saya akan diberi sanksi dalam dua minggu kecuali kalau saya menerima tawaran tersebut, di mana untungnya saya tidak menerimanya," ujar Zarif, Selasa (6/8).
Zarif pun menolak memberitahu siapa senator dan anggota parlemen yang dimaksud ataupun informasi rinci terkait isi pembicaraan mereka karena perannya sebagai diplomat.

"Memboikot menteri luar negeri suatu negara berarti negosiasi anda (AS) gagal," kata Zarif.

Zarif juga menambahkan bahwa pendekatan yang telah dilakukan AS setiap harinya berakhir pada kegagalan perundingan.

"AS belum memenangi perang apa pun di zaman modern ini dan itulah mengapa mereka terpaksa menggunakan sanksi-sanksi dan pemboikotan terhadap institusi dan organisasi Iran," ucap dia.

Sementara itu, juru bicara pemerintahan Iran, Ali Rabiei, mengatakan pada Minggu (4/8) pekan lalu bahwa undangan Gedung Putih itu ditengahi oleh Senator Rand Paul, yang ditunjuk Presiden Trump sebagai perantara antara Iran dan AS.

Kepada CNN, Trump mengatakan, "Rand bertanya kepada saya apakah dia bisa ikut terlibat. Saya bilang ya."
AS menjatuhkan sanksi kepada Zarif pada Rabu 31 Juli lalu. Ketegangan kedua negara semakin meningkat di Teluk Persia dalam beberapa bulan belakangan akibat sejumlah insiden, di antaranya Teheran yang menyita tiga kapal tanker, Inggris yang menahan kapal tanker Iran di Gibraltar, serta adanya serangan misterius terhadap beberapa tanker minyak lainnya.

Seperti dilansir CNN, AS juga telah mengirim pasukan ke kawasan Teluk serta mengirimkan armada kapal induk yang mengangkut jet tempur penyerang, pengebom dan setidaknya 1.000 pasukan tambahan.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, sebelumnya sempat mengatakan, "Zarif melaksanakan agenda yang ceroboh dari Pemimpin Tertinggi Iran, dan dia adalah juru bicara utama rezim Iran di seluruh dunia."

"AS sedang mengirim pesan yang jelas kepada rezim Iran di mana perilaku mereka (Iran) baru-baru ini sungguh tidak dapat diterima," ujar Mnuchin dalam pernyataannya.

Saluran televisi Iran, Press TV, juga melaporkan bahwa juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei menekankan posisi Zarif sebagai kepala kebijakan luar negeri, diplomasi dan diplomasi keamanan.

[Gambas:Video CNN]

"Apakah itu tidak berisiko bagi pemerintah untuk secara terus-menerus mengklaim terbuka bagi negosiasi dan kemudian memberikan sanksi kepada Menteri Luar Negeri suatu negara yang diundang untuk mengadakan perundingan?" kata Rabiei. (ajw/ayp)