Pelaku Penembakan di AS Sempat Main Twitter Sebelum Beraksi

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 22:35 WIB
Pelaku Penembakan di AS Sempat Main Twitter Sebelum Beraksi Lokasi penembakan di Texas, Amerika Serikat. (Mark Lambie/The El Paso Times via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak kepolisian masih menyelidiki motif penembakan yang mengakibatkan sembilan orang tewas di wilayah Dayton, Ohio, Amerika Serikat, pada Minggu pagi lalu.

Kepolisian juga menelusuri akun Twitter pelaku yang diidentifikasi sebagai Connor Betts (24). Dilansir CNN, Connor diketahui sempat mencuit sesaat sebelum melakukan aksi penembakan.


Connor yang memiliki akun @iamthespookster berkicau di Twitternya pada 3 Agustus lalu, tepat di hari insiden penembakan berlangsung.


Dia juga kerap me-retweet unggahan-unggahan yang berkaitan dengan dukungan terhadap kelompok ekstrem sayap kiri, unggahan terkait anti kepolisian, serta kicauan yang mendukung Antifa, anti fasisme, dan pengunjuk rasa.

 [Gambas:Video CNN]

"Kaum milenial memiliki sebuah pesan untuk generasi Joe Biden: bergegaslah dan mati," cuit Connor.
 
Dalam data diri singkat yang tertera di akunnya, Connor menulis, "Dia/ penggemar anime / penggemar musik metal / sayap kiri / Saya akan pergi ke neraka dan saya tidak akan kembali."
 
Sementara itu, beberapa jam sebelum terjadinya penembakan Dayton, akun Twitter miliknya sempat "menyukai" beberapa kicauan tentang penembakan di El Paso, Texas yang menewaskan 22 orang, termasuk satu kicauan yang mendukung pengendalian senjata dan lainnya yang menyebut penembakan El Paso sebagai tersangka "teroris" dan "supremasi kulit putih."
 
Tak hanya itu, akun tersebut kerap me-retweet beberapa unggahan yang mengkambinghitamkan kepolisian dan mendukung pengunjuk rasa Antifa yang gemar menggunakan taktik kekerasan.
 

Di hari yang sama, akun Connor akhirnya ditangguhkan oleh Twitter.

"Kami secara proaktif menghapus konten yang melanggar kebijakan kami dan akan dilibatkan dengan penegakan hukum yang sesuai," ujar seorang juru bicara Twitter.
 
Sementara itu, CNN juga turut menelusuri masa remaja Connor ketika di SMA. Dia disebut pernah dilaporkan ke polisi karena dituduh memiliki "daftar orang-orang yang hendak dibunuh dan diperkosa."
 
Menurut penuturan teman kelasnya, daftar tersebut terbagi menjadi dua kolom, "daftar yang hendak dibunuh" ditujukan untuk teman laki-lakinya, sedangkan "daftar pemerkosaan" ditujukan untuk perempuan.
 
Pihak berwenang juga menemukan tulisan Connor tentang keinginannya untuk membunuh orang. Namun, dalam tulisannya, ia tidak mengindikasikan adanya alasan rasis ataupun politik.
 

Dalam insiden penembakan Ohio, Connor juga menembak mati adik perempuannya, Megan Betts (22). Megan menjadi salah satu dari sembilan korban tewas.

Connor ikut terbunuh setelah kepolisian meluncurkan tembakan.

Hingga kini penyidik masih meyakini Connor bertindak sendiri. "Tidak ada diskriminasi dalam penembakan itu. Itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat," ujar Matt Carper selaku Asisten Polisi Matt Carper. (ajw/dea)