Krisis keuangan juga membuat pegawai negeri sipil di Palestina harus bisa bertahan hidup setiap bulannya, dengan gaji yang setengahnya telah dipotong.
Akibat pemasukan yang terbatas, sebagian warga Palestina kesulitan menyisihkan uang untuk membeli hewan kurban seperti pada umumnya untuk memperingati Lebaran Haji.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan juga terdengar dari cerita Mohammed Faara. Faara merupakan seorang tukang daging di Tepi Barat. Ia mengaku penjualannya tahun ini turun 70 persen jika dibandingkan 2018 lalu.
"Situasinya sangat menyedihkan, saya sudah tanya tukang daging lainnya dan semuanya mengalami hal yang sama," papar Faara.
"Tapi tetap tidak ada yang membeli," kata Abdullah.
"Tahun ini ada resesi besar. Karena pemotongan gaji untuk pegawai pemerintah, tidak ada uang di pasar," paparnya menambahkan.
Krisis ekonomi juga memunculkan sejumlah lelucon selama perayaan Idul Adha kemarin. Sejumlah netizen Palestina mengunggah video meme berisikan kambing dan sapi yang berjalan bebas di jalanan serta bersantai di sebuah ayunan karena tidak ada yang menyembelih mereka di Hari Idul Adha.
Menurut Bank Dunia, pada 2018 produk domestik bruto hampir tidak tumbuh di wilayah Palestina pada 2018, sementara tingkat pengangguran terus bertambah menjadi 30 persen.
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah pengamat menuturkan situasi saat ini bisa jadi lebih buruk, terutama setelah pemerintah Palestina memotong gaji PNS sebesar 50 sampai 60 persen karena krisis keuangan.
Selain PNS, para pengusaha dan pedagang Palestina juga harus membayar pajak bagi setiap barang dagangan yang transit melalui pelabuhan Israel kepada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. (rds/ayp)