Aktivis Hong Kong Surati Merkel Jelang Lawatan ke China

CNN Indonesia | Rabu, 04/09/2019 20:55 WIB
Aktivis Hong Kong Surati Merkel Jelang Lawatan ke China Pemimpin demonstrasi Hong Kong menulis surat terbuka berisi permohonan dukungan kepada Angela Merkel menjelang kunjungan kanselir Jerman itu ke China. (Reuters/Bobby Yip)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin demonstrasi Hong Kong, Joshua Wong, menulis surat terbuka berisi permohonan dukungan atas agenda demokrasi mereka yang ditujukan kepada Angela Merkel menjelang kunjungan kanselir Jerman itu ke China pekan ini.

"Kami berharap Anda dapat mengekspresikan kekhawatiran tentang situasi kacau yang kami alami dan akan menyampaikan berbagai tuntutan kami kepada pemerintah China selama kunjungan Anda di China," tulis Joshua dalam surat terbuka di harian Bild.

Dalam surat itu, Joshua menganggap Merkel mengerti situasi di Hong Kong karena pernah tinggal di Jerman Utara kala masih menjadi wilayah komunis.
"Anda memiliki pengalaman langsung dengan berbagai teror dari pemerintah diktator. Jerman dengan berani berdiri di baris terdepan dalam perjuangan melawan rezim otoriter selama tahun 1980-an," tulis Wong, sebagaimana dikutip AFP.


Wong dan para warga Hong Kong yang tergabung dalam German Concern Group menekankan bahwa mereka dan Merkel memiliki prinsip demokrasi yang sama.

Para demonstran juga berpendapat bahwa mereka sedang menghadapi "rezim diktator" pelaku kekerasan yang mengarah pada bentuk baru pembantaian seperti insiden di Lapangan Tiananmen.
Surat terbuka tersebut juga memperingatkan pemerintah Jerman untuk berhati-hati ketika melakukan hubungan bisnis dengan China mengingat Beijing tidak mematuhi hukum internasional dan sering melanggar janjinya.

Merkel akan memulai lawatan ke China bersama delegasi bisnis besar selama tiga hari pada Kamis mendatang. China sendiri merupakan mitra perdagangan utama Uni Eropa.

Belakangan, China menjadi sorotan di tengah unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong yang kerap berujung ricuh sejak awal Juni lalu.

[Gambas:Video CNN]

Aksi demonstrasi ini awalnya memang menjadi wadah untuk menyuarakan penolakan warga atas pembahasan RUU ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus di Hong Kong diadili di wilayah lain, termasuk China.

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan RUU ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk agar Carrie Lam mundur dan melepaskan Hong Kong dari China. (fls/has)