Peneliti Dipolisikan Gara-gara Beri Nama Tokek dari Pahlawan

CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 03:55 WIB
Peneliti Dipolisikan Gara-gara Beri Nama Tokek dari Pahlawan Ilustrasi tokek. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekelompok peneliti asal Sri Lanka memicu kontroversi karena menamai enam spesies tokek baru dengan nama pahlawan nasional. Enam tokek tersebut memiliki nama latin yang berasal dari nama pahlawan.

Pihak yang menolak penamaan itu mengadu ke kepolisian setempat.

Dikutip dari AFP, Rabu (11/9), empat tokek diberi nama pahlawan yang berjuang melawan penjajahan Inggris pada abad ke-19. 


Sedangkan dua spesies tokek lain diberi nama prajurit yang pernah bertempur pada abad pertama sebelum masehi. Dua tokek tersebut ditemukan di sebuah pulau di Samudra Hindia pada 2017 lalu.


Menurut Mongabay, dua nama tokek diambil dari Nandimithra (Cnemaspis nandimithrai) dan Gotaimbara (C. gotaimbarai).

Sedangkan empat lainnya yaitu Kohukumbure Walawwe Rate Rala (C. kohukumburai), Meegahapitiye Walawwe Hitihami Mudiyanselage Rate Rala (C. hitihami), Butewe Rate Rala (C. butewai), dan Kivulegedara Mohottala (C. kivulegedarai).

Penamaan reptil kecil itu memicu perdebatan setelah anggota dewan ultra-nasionalis, Wimal Weerawansa, membawa masalah tersebut ke parlemen.

"Pahlawan kami bukanlah tokek. Jika kamu menyentuh ekornya, maka itu akan patah. Pahlawan kami tidak seperti itu," kata Weerawansa kepada para pembuat kebijakan.

[Gambas:Video CNN]

Tidak lama setelah itu, seorang biksu mengadukan persoalan ini ke inspektur jenderal kepolisian.
 
Namun kepolisian menganggap laporan tersebut tidak dapat dilanjutkan karena tidak ada dasar hukumnya.

"Jika ada pihak yang merasa tersinggung, tindakan sipil mungkin bisa dilakukan, tetapi tidak ada tindakan kriminal tentang hal ini," ujar jubir kepolisian Ruwan Gunasekara.


Meski penamaan ini mendapat banyak penolakan, hal berbeda diungkapkan Jagath Gunawardana, seorang aktivis yang namanya dipakai untuk spesies katak baru yang ditemukan pada 2013. Tujuannya untuk mengapresiasi pekerjaan Gunawardana dalam bidang perlindungan lingkungan.

"Hanya karena seekor katak dinamai dengan nama saya, orang-orang tidak memanggil saya katak. Saya tidak merasa diejek, tetapi merasa terhormat," kata dia.

Sementara para peneliti tokek mengaku memberikan nama tersebut untuk menghormati para pahlawan nasional.

"Ide tersebut bukan untuk menciptakan kontroversi, melainkan untuk menekankan keberagaman hewan dan keunikan di Sri Lanka," kata kepala penelitian Sameera Suranjan Karunarathne.


Selain untuk penghormatan, secara pribadi ia juga ingin memberikan perhatian pada pahlawan lokal yang kurang dikenal.

Mereka sebelumnya disebut "pemberontak" pada masa penjajahan Inggris lalu akhirnya label tersebut diputihkan melalui surat keputusan presiden. (fls/dea)