Trump Klaim Pemimpin Iran Inginkan Pertemuan dengan AS

CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 14:15 WIB
Trump Klaim Pemimpin Iran Inginkan Pertemuan dengan AS Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump mengklaim bahwa para pemimpin Iran menginginkan pertemuan dengan Amerika Serikat.

Kata dia, para pemimpin Iran berharap Trump bisa mengatur pertemuan puncak di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York bulan ini.

"Saya dapat memberi tahu Anda bahwa Iran ingin bertemu," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih seperti dikutip dari AFP.



Trump dalam beberapa kesempatan menyatakan siap berdialog dengan Presiden Iran Hassan Rouhani yang diperkirakan akan menghadiri Sidang Umum PBB.

Namun, Iran menolak dengan syarat AS terlebih dulu mencabut sanksi terhadap mereka.

Rabu kemarin, Rouhani mengecam pemerintahan Trump, yang memberi tekanan pada Iran dengan mengatakan "Amerika harus memahami bahwa sikap suka-suka mencela dan menghasut perang tidak menguntungkan mereka. Keduanya harus ditinggalkan."

[Gambas:Video CNN]

Ketegangan kedua negara bermula sejak Juli lalu, ketika Iran mengumumkan melakukan pengayaan uranium melebihi batas yang ditentukan dalam perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menetapkan Iran harus membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen, jauh dari keperluan mengembangkan senjata nuklir yaitu 90 persen. Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.


Iran bertekad bakal terus melakukan pengayaan uranium jika negara-negara lain yang menandatangani perjanjian itu tak berbuat apa pun untuk melawan AS.

Sejak saat itu, tensi antara Iran dan AS terus meningkat dengan isu pengerahan militer hingga uji coba rudal Teheran.

Namun, beberapa analis melihat harapan adanya kompromi setelah keluarnya penasihat keamanan nasional garis keras Trump, John Bolton pekan ini.

Bolton merupakan veteran dan sosok kontroversial yang kerap dikaitkan dengan invasi Irak dan keputusan luar negeri agresif AS lainnya.

Hesameddin Ashena, penasihat Rouhani, memuji pemecatan Bolton sebagai "tanda kekalahan strategi tekanan maksimum Amerika."


Namun, meski Bolton tak ada, pemerintahan Trump tidak menunjukkan tanda-tanda bakal mencabut sanksi terhadap Iran.

"Sekarang presiden telah menjelaskan bahwa dia senang melakukan pertemuan tanpa prasyarat, tetapi kami mempertahankan kampanye tekanan maksimum," kata Menteri Keuangan Steven Mnuchin setelah kepergian Bolton. (dea)