Rusuh Wamena, Benny Wenda Sebut Papua Memburuk

CNN Indonesia | Selasa, 24/09/2019 10:48 WIB
Rusuh Wamena, Benny Wenda Sebut Papua Memburuk Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat (ULMWP), Benny Wenda. (Dok. The Office of Benny Wenda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP), Benny Wenda, menanggapi kabar 22 korban tewas dalam aksi unjuk rasa di Wamena, Papua Barat pada Senin (23/9) kemarin. Dia menyatakan kejadian ini memperlihatkan krisis di Papua semakin memburuk.

"Situasi di Papua Barat semakin hari kian memburuk. Situasi ini bisa mengarah seperti di Timor Timur," tulis Benny Wenda melalui pernyataannya yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (24/9).


Benny menyoroti pendekatan keamanan represif yang dilakukan Indonesia dalam menangani pergolakan di Papua. Menurut dia hal itu hanya membuat kekerasan semakin meningkat.


"Sampai kapan dunia harus melihat warga Papua dibantai seperti hewan sebelum mereka turun tangan? Rasanya sudah cukup selama 57 tahun ini," ujar Benny.

Benny yang disebut sebagai tokoh separatis oleh pemerintah Indonesia saat ini mengasingkan diri ke Kota Oxford, Inggris.

Unjuk rasa berujung rusuh di Wamena diduga karena dipicu perkataan rasisme. Aksi itu sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat di Wamena.


Massa dilaporkan membakar dan merusak sejumlah fasilitas milik pemerintah dan swasta, termasuk kendaraan bermotor.

Sebelumnya, Polda Papua mengklaim kerusuhan yang terjadi di Wamena hingga berujung pembakaran Kantor Bupati Jayawijaya bermula dari tawuran antarpelajar.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, menuduh Benny Wenda adalah dalang kerusuhan yang terjadi di sejumlah tempat di Papua kemarin.

"Dari awal desain ini tidak luput dari peran BW (Benny Wenda) dari ULMWP dengan underbouw-nya KNPB (Komite Nasional Papua Barat)," ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, kemarin.

[Gambas:Video CNN]

Dedi mengatakan beberapa tokoh dari KNPB telah ditangkap. Dia menambahkan, KNPB yang berjejaring dengan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menggunakan organisasi itu untuk menghasut masyarakat dan mahasiswa Universitas Cenderawasih. (ayp/ayp)