Greta Thunberg, Remaja Penggertak Pemimpin Dunia

CNN Indonesia | Selasa, 24/09/2019 15:46 WIB
Greta Thunberg, Remaja Penggertak Pemimpin Dunia Dari depan gedung parlemen Swedia, Greta Thunberg mulai menjajaki panggung-panggung internasional untuk menantang pemimpin dunia menanggulangi perubahan iklim. (AP Photo/Jason DeCrow)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Teganya kalian. Kalian mencuri mimpi dan masa kecilku dengan omong kosong kalian," ujar seorang gadis berkepang dengan emosi meluap dan mata berkaca-kaca.

Di hadapannya, duduk delegasi pemimpin dunia yang menghadiri konferensi tingkat tinggi soal iklim di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, pada Senin (23/9).

Gadis berkepang itu adalah Greta Thunberg. Umurnya masih 16 tahun, tapi berani memaki delegasi dunia di panggung PBB.


Thunberg geram karena masa kecilnya terenggut demi menyuarakan bahaya perubahan iklim, sementara para pejabat dunia hanya bisa mengumbar janji.

"Saya seharusnya tidak di sini. Saya seharusnya di sekolah. Namun, kalian menumpukan harapan kalian ke anak-anak muda. Beraninya kalian," tutur Thunberg.
Remaja asal Swedia itu memang rutin bolos sekolah setiap Jumat sejak Agustus 2018. Saat itu, Thunberg izin tak masuk sekolah hanya untuk berdiri di depan gedung parlemen Stockholm sambil memegang spanduk bertuliskan "Tindakan lebih kuat untuk iklim."

Thunberg tak mau angkat kaki dari depan gedung parlemen. Ia bersumpah akan terus menggelar demonstrasi hingga Swedia memenuhi target pengurangan emisi yang tercantum dalam Kesepakatan Paris.

Di pekan-pekan berikutnya, setiap Jumat ia mengajak teman-temannya untuk melakukan aksi serupa hingga akhirnya demonstrasi itu meluas dan dikenal dengan nama Fridays for Future.

Nama Thunberg terus melambung sampai-sampai ia diundang untuk berbicara di Konferensi Perubahan Iklim PBB 2018. Sejak saat itu, gelombang gerakan Thunberg menggulung ribuan kota di seluruh dunia. 
Greta Thunberg, Gertak Gerah Bocah Penolak Perubahan IklimGreta Thunberg rutin bolos sekolah setiap Jumat sejak Agustus 2018. (AFP Photo/Fabrice Coffrini)
Time melaporkan bahwa terhitung hingga 24 Mei lalu, 1,6 juta siswa di 1.600 kota di 125 negara mengikuti jejak Thunberg, melangkah keluar sekolah untuk mendesak pihak berwenang mengambil tindakan tegas atas perubahan iklim.

Dari Swedia, Thunberg pun mulai menjajaki panggung-panggung internasional, mulai dari Uni Eropa hingga mimbar parlemen Inggris. Di London, ia menyedot perhatian para anggota parlemen karena pernyataan kerasnya.

"Sikap tak bertanggung jawab ini tentu akan diingat dalam sejarah sebagai salah satu kegagalan terparah dalam kehidupan manusia. Kalian berbohong pada kami. Kalian memberikan kami harapan palsu. Kalian bilang masa depan adalah sesuatu yang seharusnya kami nantikan," kata Thunberg seperti dikutip The Guardian.

Thunberg terus memuntahkan amarah karena kebijakan Inggris yang mengeksploitasi bahan bakar fosil, seperti pemberian izin tambang batu bara baru. Menurutnya, kebijakan-kebijakan tersebut "lebih dari absurd."
Ia mengaku bingung karena kebijakan tersebut diresmikan kala Inggris berkomitmen untuk bekerja sama membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius sesuai dengan Kesepakatan Paris.

Komitmen Thunberg untuk mengurangi emisi global memang sangat kuat, sampai-sampai ia melakukan tur kampanye ke luar negeri menggunakan kapal bertenaga surya. Dari Plymouth, Inggris, ia mengarungi Samudera Atlantik menuju New York, AS.

Kepedulian Thunberg akan lingkungan hidup sudah mulai terpupuk sejak kecil. Lahir pada 3 Januari 2003, Thunberg pertama kali mendengar mengenai perubahan iklim pada 2011, ketika masih berusia 8 tahun.

"Saya ingat ketika di sekolah, guru kami menunjukkan film tentang plastik di laut, beruang kutub yang kelaparan dan lain-lain. Saya menangis sepanjang film. Teman-teman juga resah saat menonton film, tapi kemudian berhenti, dan memikirkan hal lain," tutur Thunberg sebagaiamana dilansir The Guardian.

"Saya tidak bisa begitu. Gambar-gambar itu menempel di kepala saya."


[Gambas:Video CNN]
Masalah ini terus berputar di kepala Thunberg hingga ia tertekan. Thunberg akhirnya didiagnosis mengidap sindrom Asperger dan obsessive-compulsive disorder (OCD).

Untuk menenangkan buah hatinya, orang tua Thunberg, Malena Ernman dan Svante Thunberg, menjadi vegan dan tak lagi menggunakan pesawat. Ibunya pun mengandaskan karier sebagai penyanyi opera dunia.

Namun, Thunberg tak serta merta lepas dari pengaruh musik. Ia masih menggunakan musik untuk menyuarakan desakannya, termasuk dengan sumbang suara dalam salah satu lagu band asal Inggris, The 1975.

Di akhir narasinya dalam lagu tersebut, Thunberg berkata, "Jadi, semua orang di luar sana, sekarang waktunya pemberontakan sipil. Ini waktunya memberontak." (has/has)