AS Akan Kerahkan Rudal Patriot dan 200 Tentara ke Saudi

CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 14:37 WIB
AS Akan Kerahkan Rudal Patriot dan 200 Tentara ke Saudi Rudal Patriot milik AS. (Reuters/Issei Kato/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mengumumkan akan mengerahkan rudal Patriot dan 200 pasukan pendukung ke Arab Saudi untuk membantu pertahanan negara itu usai kilang minyak Aramco diserang dua pekan lalu.

Iran dituding sebagai pihak bertanggung jawab atas serangan drone yang turut memangkas setengah produksi minyak Saudi itu.

Dikutip AFP, Kementerian Pertahanan AS mengatakan akan turut menyertakan satu unit baterai rudal darat-ke-udara beserta empat radar Sentinel yang digunakan untuk sistem pertahanan rudal dan udara.



Juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman mengatakan AS juga menyiapkan dua baterai Patriot lainnya dan satu sistem pencegah rudal balistik THAAD seandainya dibutuhkan untuk dikirim.

"Pengerahan ini akan menambah pertahanan udara dan rudal kerajaan Saudi atas infrastruktur militer dan sipil," ujar Hoffman.

"Penting untuk dicatat bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen kami kepada mitra regional, dan keamanan dan stabilitas di Timur Tengah," kata dia menambahkan.

[Gambas:Video CNN]

Pengiriman rudal Patriot dan pasukan pendukung itu merupakan penegasan janji Menteri Pertahanan Mark Esper untuk mengirimkan pasukan tambahan ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Esper mengungkapkan Presiden Donald Trump setuju penempatan pasukan bersifat defensif tersebut.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo sebelumnya berencana membentuk koalisi baru buat membendung ancaman Iran. Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Inggris, dan Bahrain sudah menyatakan setuju masuk dalam koalisi itu.


Meski demikian, beberapa negara lain di Uni Eropa dan juga Irak sudah menyatakan enggan bergabung koalisi sebab dinilai bakal memicu ketegangan lebih lanjut.

Sementara itu pemerintah Iran membantah tuduhan AS yang menyebut mereka terlibat dalam serangan terhadap dua kilang perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco. Iran menuding AS hanya mencari alasan untuk menyalahkan mereka dalam kejadian itu.

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman sudah mengklaim bertanggung jawab dalam serangan terhadap kilang minyak tersebut.


Namun, pemerintah AS menyatakan bahwa pemberontak Houthi tidak memiliki senjata pesawat nirawak yang bisa terbang sejauh itu. (dea)