Pesan Teks Diplomat AS Perkuat Dugaan Trump Tekan Ukraina

CNN Indonesia | Jumat, 04/10/2019 18:34 WIB
Pesan Teks Diplomat AS Perkuat Dugaan Trump Tekan Ukraina Presiden AS Donald Trump. (Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dugaan Presiden Donald Trump menekan Ukraina demi kepentingan pribadi menjelang pemilihan umum Amerika Serikat pada 2020 mendatang semakin kuat setelah sejumlah pesan teks diplomat Negeri Paman Sam terungkap ke publik.

Dalam pesan itu, mantan utusan khusus AS untuk Ukraina, Kurt Volker, membujuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk membuka penyelidikan dugaan korupsi anak dari mantan Wakil Presiden Joe Biden, rival Trump di pemilu 2020 mendatang.


Volker mengirim pesan itu kepada ajudan Zelensky, Andrey Yermak. Di pesannya, Volker menjanjikan Zelensky kunjungan kenegaraan ke Washington dan pertemuan dengan Trump jika Ukraina mau membuka penyelidikan tersebut.


"Mendengar dari Gedung Putih dengan asumsi bahwa Presiden Z meyakinkan Trump bahwa dia akan menyelidiki apa yang terjadi pada 2016, kami akan menetapkan jadwal kunjungan (Zelensky) ke Washington. Semoga beruntung!" tulis pesan Volker kepada Yermak pada 25 Juli lalu.

[Gambas:Video CNN]

Volker juga mengirim pesan kepada Duta Besar AS untuk Uni Eropa, Gordon Sondland. Dalam pesan itu, Volker mengatakan "hal yang paling penting bagi Zelensky adalah mengatakan bahwa dia akan menolong penyelidikan itu."

Pesan-pesan itu didapat fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan AS dan dirilis bersamaan dengan pemeriksaan Volker oleh pengacara Dewan Perwakilan yang berlangsung selama delapan jam pada Kamis (3/10).


"Terlibat dalam pelanggaran yang besar di siang bolong seperti ini tidak membebaskan Presiden trump dari kesalahan atau pelanggaran beratnya terhadap konstitusi," bunyi pernyataan bersama ketua tiga komite Dewan Perwakilan AS usai menerima kesaksian Volker seperti dikutip AFP.

Tiga ketua komite tersebut terdiri dari Ketua Komisi Intelijen Dewan Perwakilan Adam Schiff, Ketua Panel Pengawas Dewan Perwakilan Elijah Cummings, dan Ketua Komisi Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Eliot Engel.

Ketiganya menuding Trump menghalangi penyelidikan upaya pemakzulan yang tengah mereka lakukan.


Penyelidikan pemakzulan Trump dibuka setelah sang presiden terindikasi menyalahgunakan wewenang untuk menekan Zelensky supaya melakukan penyelidikan terhadap anak Joe Biden.

Trump bersikeras membantah penyalahgunaan wewenang itu dan menganggap proses pemakzulan yang dibuka fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan merupakan upaya kudeta. (rds/dea)