Polisi Inggris Sebut Penusukan di Manchester Aksi Teror

CNN Indonesia | Sabtu, 12/10/2019 12:00 WIB
Polisi Inggris Sebut Penusukan di Manchester Aksi Teror Ilustrasi penusukan. (Istockphoto/ Zoka74)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat kepolisian Inggris menyatakan peristiwa penusukan yang terjadi di pusat perbelanjaan Arndale, Manchester, pada Jumat (11/10) kemarin diduga kuat adalah aksi terorisme. Mereka khawatir aksi itu membangkitkan luka lama yakni teror bom usai konser Ariana Grande dua tahun lalu di kota yang sama.

"Hal ini membangkitkan kembali kenangan buruk pada kejadian 2017. Kami belum tahu motif serangan ini. Sepertinya acak saja, tetapi brutal dan membuat orang-orang yang menyaksikannya ketakutan," kata Kepala Kepolisian Manchester Raya, Russ Jackson, seperti dilansir Channel NewsAsia, Sabtu (11/10).


Jackson menyatakan sampai saat ini ada lima korban luka dalam kejadian itu. Meski mengalami cedera serius, dia mengatakan seluruh korban bisa diselamatkan.


Menurut Jackson, polisi berhasil menangkap seorang pelaku yang merupakan lelaki berusia sekitar 40-an tahun. Dia dibekuk tak jauh dari lokasi kejadian.

Meski demikian, dia tidak merinci identitas terduga pelaku. Aksi semacam ini kerap dilakukan oleh pendukung ISIS di sejumlah negara di dunia dengan metode beraksi seorang diri (lone wolf).

Saat ini penyelidikan kasus itu dilimpahkan kepada satuan antiterorisme Kepolisian North West.

Menurut seorang saksi, Jordan (23), dia melihat seorang lelaki berlari-lari sambil membawa pisau. Menurut dia pelaku menyabetkan senjata tajam itu ke arah orang-orang yang berada di sekitarnya secara membabi buta.

[Gambas:Video CNN]

Korban terdiri dari dua perempuan yang mengalami luka sobek akibat tikaman pisau, dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Seorang lelaki berusia sekitar 50-an tahun juga turut cedera dalam kejadian itu.

Perdana menteri Boris Johnson menyatakan terkejut dengan kejadian itu.

"Saya terkejut dengan insiden yang terjadi di Manchester dan turut berduka terhadap mereka yang terluka dan terdampak. Terima kasih atas respon keadaan darurat yang baik dan yang sedang menyelidiki perkara itu," cuit Johnson melalui akun Twitter.

Saksi Freddie Houlder (22) sempat melihat langsung pelaku hampir menikam seorang perempuan. Namun, pisau itu tidak mempan karena jaket yang dikenakan perempuan itu cukup tebal.

"Saya pikir ini ulah gengster. Tapi setelah dilihat lelaki itu hanya berputar-putar dan mencoba menikam siapa saja yang lewat," ujar Freddie.


Arndale pernah menjadi target serangan bom saat Inggris masih bertikai dengan pemberontak Irlandia Utara. Saat itu pemberontak Tentara Republik Irlandia (Provisional IRA) meledakkan bom seberat 1,5 ton pada 1996, melukai 212 orang. (ayp/ayp)