Petani Belanda Kembali Demo Tolak Riset Emisi Nitrogen

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 04:00 WIB
Petani Belanda Kembali Demo Tolak Riset Emisi Nitrogen Demo petani Belanda. (AP Photo/Mike Corder)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan petani Belanda kemarin, Rabu (16/10), kembali berunjuk rasa menentang kebijakan iklim yang diterapkan pemerintah. Mereka membawa traktor dan memblokir sejumlah jalan utama hingga parlemen di Negeri Kincir Angin.

Seperti dilansir AFP, Kamis (17/10), gelombang unjuk rasa itu sudah berlangsung selama tiga pekan. Para petani menolak pembatasan emisi nitrogen yang diterapkan pemerintah.


Alhasil, mereka memutuskan memblokir parlemen Den Haag sampai tuntutannya dipenuhi. Para petani itu datang dari seantero Belanda membawa traktor dan diparkir di alun-alun dan sejumlah ruas jalan.


"Kami sudah lama marah. Pemerintah sudah menerapkan aturan yang mengekang petani, sekarang urusan nitrogen," kata seorang petani, Rik Oosterveld.

Di sela-sela demonstrasi, para petani memutuskan memutar lagu dan berorasi. Sedangkan kepolisian Belanda menerjunkan satuan antihuru-hara berpakaian lengkap dan meriam air untuk mengurai massa.

Akibat demo itu, terjadi kemacetan di sejumlah ruas jalan sepanjang 450 kilometer. Pemerintah juga memutuskan menghentikan sementara layanan transportasi umum di Den Haag.

[Gambas:Video CNN]

Menurut hasil kajian, lembaga Institut Nasional Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM) dua tahun lalu, sektor agrikultur adalah penyumbang emisi nitrogen terbesar di negara itu. Yakni mencapai 106 juta kilogram.

Sebanyak 94 juta kilogram berasal dari sektor peternakan.

Partai penguasa, VVD, dan mitra koalisinya, Partai Kristen Demokrat, menyatakan meragukan hasil kajian itu.

Aksi petani Belanda pada 1 Oktober lalu membuat kemacetan terpanjang di Belanda.

Saat itu para petani mengkritik kebijakan pemerintah untuk memerangi perubahan iklim. Pemerintah menyatakan emisi dari mesin-mesin pertanian turut menyumbang polusi karbon dan menyulitkan upaya menghambat laju perubahan iklim.

Pemerintah Belanda dilaporkan memutuskan untuk memangkas hasil produksi ternak dan turunannya, seperti susu sapi, untuk menekan emisi. Namun, hal itu akan berdampak buruk terhadap para petani yang menggantungkan hidup dari beternak.


Di sisi lain, sepertiga wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Mereka khawatir akan merasakan langsung dampak perubahan iklim yang salah satunya adalah pertambahan ketinggian muka air laut.

Meski begitu, denyut perekonomian Belanda sebagian besar ditopang oleh industri agrikultur. Mereka menjadi negara terbesar kedua eksportir hasil pertanian dan peternakan setelah Amerika Serikat. (ayp/ayp)