Aktivis Hong Kong Rencanakan Demo Besar Akhir Pekan

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 19:52 WIB
Aktivis Hong Kong Rencanakan Demo Besar Akhir Pekan Ilustrasi demo Hong Kong. (Philip FONG / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demonstran Hong Kong kembali merencanakan unjuk rasa di berbagai lokasi pada akhir pekan ini. Aksi dipicu penganiayaan terhadap aktivis HAM beberapa hari sebelumnya.

Seperti dilansir Channel News Asia, demonstrasi tersebut diawali pada Jumat (18/10) malam dengan membuat rantai manusia di berbagai lokasi dekat stasiun MTR.

Ribuan orang diperkirakan akan turun ke sepanjang kawasan pusat bisnis dan pusat perbelanjaan.



Demonstrasi dilanjutkan dengan pawai massal pada hari Minggu. Namun aksi itu terancam batal karena kepolisian menolak memberi izin.

Kepolisian mengaku menolak memberikan izin karena aksi selama ini sebelumnya berubah anarkistis ketika menginjak malam hari.

Aksi demonstrasi kali ini digelar beberapa hari setelah aktivis HAM, Jimmy Sham, diserang secara brutal pada Rabu lalu. Para anggota parlemen pro-demokrasi menganggapnya sebagai intimidasi bagi demonstran dan pemicu kerusuhan pada pawai massal.

[Gambas:Video CNN]

"Kami tidak akan mundur bahkan setelah Jimmy Sham, anggota Front Hak Asasi Manusia Sipil, diserang. Kekuatan terbesar kami adalah kesatuan dan ketahanan terhadap masyarakat sipil," kata kelompok pembela HAM tersebut.

Demonstrasi pekan ini juga bersamaan dengan peringatan dua minggu peresmian larangan penggunaan masker wajah.

Unjuk rasa yang berlangsung sejak Juni di Hong Kong, hingga kini belum menampakkan tanda akan berakhir. Pemicunya adalah pembahasan RUU Ekstradisi.


Kini tuntutan para aktivis dan demonstran meluas hingga mendesak penerapan demokrasi menyeluruh dan menolak pengekangan oleh pemerintah China, meminta penyelidikan atas kekerasan polisi, dan meminta pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mundur.

Para demonstran garis keras Hong Kong saat ini juga semakin beringas untuk menyerang polisi. Tidak hanya itu, mereka juga turut merusak sejumlah fasilitas umum dan toko atau kantor perusahaan yang terkait dengan China.


Bahkan, demonstran radikal juga tidak segan menyerang sesama warga Hong Kong yang berbeda pendapat dengan mereka di jalanan.

Mereka juga kerap diserang oleh kelompok preman yang diduga loyal dengan China. Kedua belah pihak sempat beberapa kali bentrok di jalanan, stasiun kereta bawah tanah, dan pusat perbelanjaan. (fls/dea)