Dihantam Demo Berdarah, Perdana Menteri Irak Setuju Mundur

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 08:59 WIB
Dihantam Demo Berdarah, Perdana Menteri Irak Setuju Mundur Ilustrasi demo Irak. (AP Photo/Khalid Mohammed)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Irak Barham Salih mengumumkan bahwa Perdana Meteri Adil Abdul Mahdi telah setuju untuk mengundurkan diri. Mahdi bersedia mengundurkan diri setelah Irak dihantam gelombang unjuk rasa anti-pemerintah selama berminggu-minggu.

Dalam pidato yang disiarkan televisi Al-Iraqiya, Salih menyebut Mahdi mau mengundurkan diri asalkan ada penerus yang menggantikannya.


"Perdana menteri telah setuju untuk mengundurkan diri," kata Salih dikutip dari CNN. Menurut dia, Mahdi juga meminta dibentuk blok politik untuk mencari alternatif guna mencegah kekosongan pemerintahan.


Aksi unjuk rasa besar-besaran merebak di seluruh Irak sejak 1 Oktober. Mereka menuntut langkah konkret pemerintah untuk menekan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan memberantas korupsi.

[Gambas:Video CNN]

Kamis kemarin, sejumlah mahasiswa dan profesor Irak turun ke jalan di pusat kota Diwaniyah untuk memprotes pemerintah.

Dua hari sebelumnya, salah satu ulama terkemuka Syiah Irak yang juga politisi berpengaruh, Muqtada al-Sadr, mendesak dilakukan pemungutan suara atas mosi tidak percaya terhadap Abdul Mahdi.


Baru-baru ini, empat anggota parlemen Irak mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Abdul Mahdi yang dianggap gagal menangani demonstrasi besar sepanjang bulan ini.

Hingga kini, lebih dari 197 orang dilaporkan tewas selama demo anti-pemerintah berlangsung di Irak. Sebanyak 157 di antaranya tewas dalam sepekan demo berlangsung. Jumlah itu diketahui dari hasil penyelidikan resmi yang dirilis pada 22 Oktober lalu.


Korban terbanyak ada di Baghdad dengan 111 orang tewas. Hasil penyelidikan menunjukkan hampir semua korban tewas adalah pengunjuk rasa. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa 70 persen korban tewas karena luka tembak di kepala dan dada. (dea)