Norwegia Tahan Tokoh Sayap Kanan AS Sebelum Pidato

CNN Indonesia | Senin, 04/11/2019 15:37 WIB
Norwegia Tahan Tokoh Sayap Kanan AS Sebelum Pidato Ilustrasi borgol. (Istockphoto/BrianAJackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pria yang menjadi tokoh gerakan supremasi kulit putih asal Amerika Serikat, Greg Johnson, ditahan beberapa jam sebelum berpidato dalam sebuah konferensi kelompok sayap kanan di Oslo, Norwegia. Salah satu alasan penahanannya adalah dia diduga mendukung aksi teror penembakan yang dilakukan Anders Breivik.

"Bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena ujaran kebencian dan dukungannya terhadap Anders Breivik," kata juru bicara badan intelijen, Martin Bernsen.


Dikutip dari CNN, Senin (4/11), Johnson dijadwalkan akan menjadi pembicara dalam Forum Scandza yang tersohor karena pandangan anti-Yahudi dan rasial. Namun, Johnson kemudian ditahan di bawah undang-undang imigrasi dengan pertimbangan dari badan intelijen Norwegia.


Bernsen menyatakan penahanan itu merupakan tindakan preventif.

"Penahanan Johnson dan aksi serupa merupakan bagian dari tindakan kami dalam mencegah serangan-serangan seperti apa yang kita lihat di Selandia Baru dan apa yang sempat terjadi di sini," ujarnya.

Bernsen mengatakan aparat sedang berupaya untuk mendeportasi Johnson secepat mungkin. Bahkan prosesnya bisa saja terjadi dalam beberapa jam karena pihaknya tidak ingin membiarkannya berlama-lama di Norwegia.

Penahanan ini kemudian dikonfirmasi melalui situs resmi kelompok supremasi kulit putih Counter-Currents Publishing. Johnson yang merupakan pemimpin redaksi membantah tuduhan terhadapnya dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah mendukung tindakan kriminal yang dilakukan Breivik.

[Gambas:Video CNN]

"Secara konsisten, saya selalu mengutuk tindakan kekerasan dan terorisme. Faktanya, saya tidak tahu siapapun selain saya yang berbicara dengan sangat jelas dan tegas dalam menentang terorisme sayap kanan," kata Johnson.

Johnson diketahui masih berada di Norwegia dan telah memanggil seorang pengacara untuk mencoba membebaskannya.

Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah aksi teror yang diduga terkait dengan gerakan sayap kanan terjadi di Norwegia. Bahkan laporan badan intelijen pada awal tahun ini juga menyebutkan gerakan teror sayap kanan di dunia meningkat pesat, dan telah memberi peringatan ada kemungkinan Norwegia kembali menjadi target.

Salah satu kasus teror sayap kanan yang terkenal adalah penembakan massal yang dilakukan Anders Behring Breivik pada Juli 2011.

Breivik yang merupakan penganut ideologi sayap kanan menembaki peserta perkemahan musim panas di dekat Pulau Utoya. Sebanyak 77 orang meninggal dalam kejadian itu, sebagian besar merupakan remaja.

Karena perbuatannya, Breivik dihukum penjara selama 21 tahun.


Kejadian teror lainnya adalah ketika seorang pria memaksa masuk ke dalam sebuah masjid id Oslo dengan membawa senjata api. Namun, dia berhasil dicegah sebelum melakukan penembakan.

Pelaku percobaan penyerangan masjid itu dilaporkan terinspirasi dari serangan yang sama, salah satunya di Selandia Baru yang menewaskan 51 orang. Pelakunya adalah seorang warga Australia, Brenton Harrison Tarrant, yang juga penganut ideologi sayap kanan. (fls/ayp)