Demo Ricuh di Irak, Aparat Kembali Tembaki Demonstran

CNN Indonesia | Selasa, 05/11/2019 21:06 WIB
Demo Ricuh di Irak, Aparat Kembali Tembaki Demonstran Ilustrasi demo Irak. (AP Photo/Khalid Mohammed)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat Irak kembali melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa anti-pemerintah di Baghdad, Senin (4/11) waktu setempat. Penembakan terjadi selang beberapa jam setelah 4 demonstran dinyatakan tewas karena luka tembak di depan gedung konsulat Iran di Kota Karbala.

Seorang petugas medis dan keamanan mengatakan sekitar 20 orang terluka dalam aksi unjuk rasa tersebut. Menurut sejumlah saksi mata aparat menembaki massa ketika sedang berkumpul di dekat kantor televisi negara.

Dikutip dari AFP, aparat kepolisian juga melepaskan gas air mata ke arah demonstran yang tengah melemparkan batu.



Bentrokan terjadi di sepanjang jalanan ibukota mengarah ke area pusat pemerintahan, di mana gedung Kedutaan Iran dan Kementerian Luar Negeri dan Peradilan berada.

Massa dikabarkan memanjat tembok gedung konsulat Iran dan melemparkan kembang api ke arah gedung. Aparat kemudian membubarkan massa dengan tembakan dan gas air mata.

"Mereka bermaksud membunuh, bukan membubarkan massa," kata seorang pengunjuk rasa menceritakan suasana kerusuhan tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Wissam Shaker, orang tua dari salah satu pengunjuk rasa mengaku anaknya pulang tanpa nyawa dengan luka tembak di bahu dan dua peluru di kepala.

"Jika gubernur mengatakan para pemrotes ini memiliki granat atau senjata, dia berbohong. Mereka tidak memiliki apa-apa selain batu sementara pasukan keamanan menembakkan peluru," ujar salah satu kerabat korban lain yang tak ingin disebut identitasnya.

Beberapa minggu belakangan ini Irak dihantam rentetan gelombang unjuk rasa anti pemerintah yang seringkali berujung pertumpahan darah.

Rentetan aksi tersebut menuntut langkah konkret pemerintah untuk menekan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan memberantas korupsi.


Menurut hitungan AFP, setidaknya 270 orang telah tewas sejak aksi unjuk rasa merebak di seluruh Irak pada 1 Oktober. Namun pemerintah Irak sendiri enggan menyebutkan jumlah korban terbaru.

Penutupan Jalan hingga Mogok kerja

Selain unjuk rasa, warga juga melakukan aksi pembangkangan sipil, seperti penutupan jalan dan aksi mogok kerja. Organisasi guru nasional dilaporkan menutup sekolah. Aksi ini kemudian disusul oleh serikat pekerja lain.

Kantor-kantor pemerintahan di sejumlah kota terpaksa tak beroperasi karena kekurangan staf. Spanduk bertuliskan "Ditutup atas Perintah Masyarakat" disematkan di depan gedung kantor.

Sejumlah aksi ini dilakukan selang sehari setelah Perdana Menteri Adil Abdul Mahdi memohon masyarakat menghentikan protes. Menurut dia, hampir semua tuntutan masyarakat sudah dipenuhi.


Sedangkan Presiden Barham Saleh telah menyetujui undang-undang tentang pemilihan umum yang baru, serta mengusulkan pemilu dilakukan lebih cepat.

Namun pengunjuk rasa belum puas. Mereka menuntut struktur politik dan pemerintahan Irak dirombak secara keseluruhan untuk mengakhiri korupsi yang merajalela.

Seperti diketahui Irak memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi dengan 25 persen masyarakat mudanya menjadi pengangguran. Padahal Irak merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). (fey/dea)