Iran dan Rusia Resmikan Pembangunan Reaktor Nuklir Baru

CNN Indonesia | Senin, 11/11/2019 09:49 WIB
Iran dan Rusia Resmikan Pembangunan Reaktor Nuklir Baru Ilustrasi fasilitas nuklir Iran. (HAMED MALEKPOUR / FARS NEWS AGENCY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran dan Rusia meresmikan tahap baru pembangunan reaktor nuklir kedua di Provinsi Bushehr dekat pantai Teluk Arab.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) dan Wakil Kepala Badan Nuklir Rusia (Rosatom), Alexander Lokshin, menjadi perwakilan kedua negara yang melakukan peletakan beton pertama di situs tersebut.

Rektor ini merupakan satu dari dua reaktor yang resmi dibangun Iran sejak 2017 lalu di Bushehr atau sekitar 750 kilometer dari Ibu Kota Teheran.



"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028 nanti, ketika proyek ini selesai, Iran akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir tersebut," ucap Salehi dalam peresmian tersebut pada Minggu (10/11).

Pembangunan reaktor nuklir ini tidak menyalahi perjanjian nuklir yang disepakati Iran, Amerika Serikat, Uni Eropa, China, Perancis, Rusia, Inggris, dan Jerman pada 2015 lalu.

Meski pakta itu melarang Iran mengembangkan senjata nuklir, Teheran masih boleh memanfaatkan teknologi nuklir untuk kebutuhan energi.

[Gambas:Video CNN]

Dilansir AFP, Iran memang telah lama berusaha mengurangi ketergantungan energi pada minyak dan gas melalui pengembangan tenaga nuklir.

Selama ini, Iran mendapat bantuan dari Rusia, salah satu sekutu dekatnya, dalam mengembangkan teknologi nuklir. Moskow telah membuat satu reaktor nuklir bertenaga 1.000 megawatt di Bushehr. 

Menurut data AEOI, reaktor itu sudah beroperasi sejak 2011. 


Sebagai bagian dari perjanjian nuklir 2015, Moskow membantu menyediakan bahan bakar yang diperlukan untuk reaktor nuklir Iran. Hal itu ditujukan sebagai salah satu penjamin bahwa program nuklir Iran tidak akan pernah digunakan untuk tujuan militer.

Namun, perjanjian nuklir 2015 itu terancam bubar setelah Presiden Donald Trump memutuskan menarik AS keluar dari pakta tersebut pada 2018 lalu.

Trump menuding Iran melanggar perjanjian dengan tetap mengembangkan senjata nuklirnya. Sejak itu, AS kembali menerapkan sanksi sepihak terhadap Iran.


Merespons hal itu, Iran pun bertekad melanjutkan program senjata nuklirnya jika AS terus menerapkan sanksi dan negara lain penandatangan perjanjian nuklir tak dapat menyelamatkan pakta tersebut. (rds/dea)