Rumah Kelahiran Hitler di Austria Bakal Jadi Kantor Polisi

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 06:56 WIB
Rumah Kelahiran Hitler di Austria Bakal Jadi Kantor Polisi Rumah tempat kelahiran Adolf Hitler di Kota Braunau, Austria. (JOE KLAMAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Dalam Negeri Austria menyatakan akan mengubah rumah tempat kelahiran mendiang pemimpin Partai Sosialis Nasional (Nazi), Adolf Hitler, di kota Braunau sebagai kantor polisi setelah sengketa bertahun-tahun. Pemerintah setempat enggan rumah itu dijadikan sebagai tempat pemujaan oleh kelompok ekstrem kanan dan neo-Nazi.

"Penggunaan rumah itu di masa mendatang oleh kepolisian adalah pertanda yang nyata supaya bangunan itu tidak digunakan sebagai monumen untuk mengenang Nazisme," kata Menteri Dalam Negeri Austria, Wolfgang Peschorn, melalui keterangan pers, seperti dilansir AFP, Rabu (20/11).

Austria Bakal Ubah Rumah Kelahiran Hitler Jadi Kantor PolisiRumah tempat kelahiran Adolf Hitler di Austria. (JOE KLAMAR / AFP)
Rumah berwarna kuning itu menjadi subjek sengketa antara pemerintah Austria dan pemilik, yakni keluarga Gerlinde Pommer. Pommer menolak rumah itu diambil alih karena sudah menjadi hak milik mereka selama hampir satu abad.


Meski demikian, pemerintah Austria mengambil alih rumah itu secara sepihak tiga tahun lalu. Setelah bertarung di pengadilan, Mahkamah Agung Austria memutuskan supaya pemerintah membayar ganti rugi kepada keluarga Pommer sebesar US$900 ribu (sekitar Rp12,6 miliar).

Hitler dilahirkan di rumah itu pada 20 April 1889. Kini, pemerintah Austria membuka tender proyek arsitektur untuk membenahi rumah itu supaya layak dan menunjang sebagai kantor polisi.

Austria Bakal Ubah Rumah Kelahiran Hitler Jadi Kantor PolisiRumah tempat kelahiran Adolf Hitler di Austria. (JOE KLAMAR / AFP)

Lelang itu dibuka mulai tahun ini dengan dewan juri sejumlah pakar dan perwakilan pemerintah kota.

Keluarga Pommer menyewakan bangunan seluas 800 meter persegi itu, termasuk sejumlah garasi dan lahan parkir, kepada pemerintah Austria sejak 1970-an.

Harga sewanya sebesar EUR4,800 (sekitar hampir Rp75 juta) per bulan. Mereka menggunakannya sebagai panti sosial untuk menampung orang-orang dengan kebutuhan khusus.

Perjanjian sewa itu batal pada 2011 karena keluarga Pommer menolak usul renovasi dan enggan menjual bangunan itu kepada pemerintah. Sejak itu bangunan tersebut dibiarkan kosong.

Pemerintah Austria sempat berniat akan menggusur bangunan itu, tetapi justru ditentang politikus dan kalangan sejarawan.


Hitler tidak tinggal lama di rumah itu. Simpatisan Nazi dan penganut ideologi sayap kanan kerap berziarah ke bangunan itu.

Sebagai bentuk perlawanan, kelompok anti-fasisme kerap menggelar unjuk rasa di luar bangunan itu pada 20 April yang dianggap sebagai hari ulang tahun Hitler. (ayp/ayp)