Rival Netanyahu Juga Gagal Bentuk Pemerintahan Israel

CNN Indonesia | Jumat, 22/11/2019 00:25 WIB
Rival Netanyahu Juga Gagal Bentuk Pemerintahan Israel Pemimpin Partai Biru Putih Israel, Benny Gantz. (AFP Photo/Jack Guez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Partai Biru Putih Israel, Benny Gantz, gagal membentuk kabinet hingga tenggat yang diberikan oleh Presiden Reuven Rivlin berakhir pada Rabu (20/11), kemarin. Hal itu membuat Israel harus menggelar pemilihan umum kembali jika tidak ingin terjerumus ke dalam krisis politik.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (21/11), Gantz menyatakan sudah berusaha berunding dengan semua pihak untuk membentuk pemerintahan bersama. Namun, dia justru menyalahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akibat kegagalan itu.

"Netanyahu harus ingat, Israel masih punya demokrasi. Dia harusnya ingat kewajiban usai pemilu adalah harus bernegosiasi dengan semua pihak tanpa halangan apapun," ujar Gantz dalam jumpa pers di Tel Aviv.


Sesuai undang-undang, parlemen Israel memberi tenggat 21 hari untuk Netanyahu, Gantz dan pihak-pihak lainnya untuk mempersiapkan pemilu kembali.


"Ini adalah bentuk pelanggaran terhadap para pemilih yang memberikan suara secara demokratis. Banyak penduduk Israel berharap pemerintahan dipimpin oleh Biru Putih. Mereka memilih meninggalkan kelompok radikal, dan enggan mendukung langkah Netanyahu selama bertahun-tahun," lanjut Gantz.

Gantz berjanji akan mempergunakan tenggat waktu yang diberikan jelang pemilu untuk melobi dan menjalin koalisi yang lebih erat, supaya kelak bisa membentuk pemerintahan bersama.

Perolehan suara di parlemen oleh partai dipimpin Gantz pada pemilu tahun ini selisih satu kursi dari Partai Likud yang menyokong Netanyahu. Yakni 33 kursi berbanding 32 kursi.

Akan tetapi, kedua belah pihak sama kuat dilihat dari komposisi perolehan kursi di parlemen bersama koalisi masing-masing.


Mulanya Netanyahu diberi mandat oleh Rivlin untuk membentuk pemerintahan, tetapi gagal.

Partai Likud dan koalisi Biru dan Putih sebenarnya sudah mengungkapkan keinginannya untuk membentuk pemerintahan gabungan. Namun, mereka berselisih pandangan mengenai cara pembentukannya.

Netanyahu ingin ada sekutu dari kalangan agama dan nasionalis untuk bergabung dengan aliansi Likud serta Biru dan Putih.

Gantz tak masalah dengan keinginan tersebut. Namun, mereka menolak salah satu usulan yang ditawarkan Rivlin.

Presiden tersebut menawarkan kompromi khusus bagi Netanyahu, yaitu petahana tersebut masih bisa memegang jabatan sebagai perdana menteri selama kasus korupsi yang menjeratnya masih berjalan. Jika Netanyahu dinyatakan bersalah, Gantz akan mengambil alih kursi PM.

[Gambas:Video CNN]

Gantz tak sepakat. Menurut Biru dan Putih, Gantz harus menjadi perdana menteri dalam skenario mana pun karena koalisi mereka mendapatkan kursi parlemen lebih banyak, yaitu 33 sementara Likud hanya 32.

Berdasarkan aturan pemilu, seorang calon PM harus mendapatkan pasangan dengan suara cukup sehingga keduanya memegang kursi mayoritas setidaknya 61 kursi dan 120 kursi parlemen yang ada. (ayp/ayp)