Mantan Staf Konsulat Inggris Mengaku Disiksa Intelijen China

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 15:35 WIB
Mantan Staf Konsulat Inggris Mengaku Disiksa Intelijen China Ilustrasi. (Istockphoto/ D-Keine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang mantan staf Konsulat Inggris di Hong Kong, Simon Cheng, mengaku ditangkap dan disiksa oleh intelijen China. Dia menyatakan aparat Negeri Tirai Bambu berusaha mengorek informasi soal dugaan keterlibatan Inggris dalam aksi unjuk rasa yang sudah terjadi di wilayah itu selama lebih dari lima bulan.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (21/11), pengakuan Simon itu disampaikan secara tertulis melalui akun Facebook dan wawancara dengan stasiun televisi. Simon menyatakan dia sempat bekerja sebagai staf bidang perdagangan dan penanaman modal.

Tugasnya adalah menarik pemodal China untuk menanamkan investasi di Skotlandia. Maka dari itu dia kerap bolak-balik ke daratan China.


Pada suatu hari, aparat China menangkap Simon di kota Shenzhen sepulang dari Inggris. Dia lantas mengaku disekap di suatu tempat.


Simon mengatakan, selama 15 hari disekap dia disiksa dengan berbagai macam cara. Dia dibebaskan pada Agustus lalu.

"Mata saya ditutup selama interogasi. Saya selalu berkeringat dan sangat lelah, pusing hingga sulit bernapas," kata Simon.

Simon mengatakan selama ditahan itu kaki dan tangannya diikat oleh agen-agen China berpakaian bebas dan dipukuli. Jam tidurnya juga sengaja dibuat kacau.

Simon juga mengatakan selalu dibawa pergi setiap hari dari tahanan ke lokasi interogasi, dengan diborgol dan mata ditutup. Jika melamun ketika ditanyai, dia mengatakan akan dihukum dengan cara lututnya dipukul dan dipaksa menyanyikan lagu kebangsaan China.

"Seorang interogator mendesak saya untuk mengungkap peran Inggris dalam demonstrasi Hong Kong. Dia mengaku dari badan intelijen China. Dia lalu mengatakan 'tidak ada hak asasi di tempat ini'," kata Simon.

Menurut Simon, dia disiksa supaya mau mengakui Inggris turut terlibat dalam gejolak di Hong Kong, dengan cara menyumbangkan uang dan barang serta membayar jaminan bagi para demonstran yang berasal dari daratan China.

Selama interogasi, Simon mengaku melihat seorang tahanan yang masih muda dan diduga adalah demonstran Hong Kong dari daratan China.

[Gambas:Video CNN]

Simon mengatakan agen intelijen China juga memaksa dia untuk memilih apakah akan dijerat terlibat prostitusi atau dugaan makar. Namun, akhirnya dia dilepas tetapi diancam bisa diculik kapanpun jika membeberkan soal penangkapan itu.

Akibat hal ini, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, memanggil Duta Besar China di London, Liu Xiaoming. Dia juga memaksa pemerintah China menyelidiki dugaan penyiksaan itu.

"Saya memanggil Duta Besar China untuk menyampaikan kemarahan atas perlakuan brutal terhadap Simon. Saya sudah menegaskan China harus menyelidiki dan menghukum orang-orang yang terlibat," kata Raab.

Raab juga menyatakan Simon saat ini sudah tidak bekerja lagi untuk mereka dan berada di negara ketiga. Dia menyatakan akan melindungi dan berupaya memindahkannya ke Inggris.

Kementerian Luar Negeri China membantah seluruh pengakuan Simon.

"Duta besar kami untuk Inggris akan mengajukan protes untuk memperlihatkan keberatan kami atas tuduhan keliru tersebut dan terkait masalah Hong Kong akhir-akhir ini," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang.


China berkali-kali menuduh ada campur tangan asing dalam gejolak sosial dan politik di Hong Kong belakangan ini. (ayp/ayp)