Prancis Kesal AS Paksa Anggota NATO untuk Beli Jet F-35

CNN Indonesia | Selasa, 03/12/2019 13:40 WIB
Prancis Kesal AS Paksa Anggota NATO untuk Beli Jet F-35 Pesawat jet tempur F-35. (AFP PHOTO / JACK GUEZ)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prancis melalui Menteri Pertahanan Florence Parly mengkritik upaya Amerika Serikat yang memaksa negara anggota NATO membeli jet tempur F-35 paling canggih buatan industri pertahanan AS, Lockheed Martin.

Merujuk pada pasal 5 piagam NATO, Parly memaparkan  sesama negara anggota pakta pertahanan itu seharusnya saling membantu dan membela, bukan memaksa untuk membeli produk militer demi keuntungan AS sendiri.

Saat ini, sejumlah mitra AS di NATO seperti Italia, Norwegia, Belanda, dan Inggris memang sudah membeli F-35. Washington juga tengah mempertimbangkan untuk menjual jet tercanggihnya itu kepada Yunani, Rumania, Spanyol, dan Polandia.



Sementara itu, Turki sempat berencana mengakuisisi jet tersebut, namun gagal setelah Ankara berkeras membeli sistem rudal Rusia, S-400. Langkah itu membuat geram AS hingga memicu Trump mengeluarkan Turki dari daftar pembeli F-35.

Parly juga menyinggung bahwa Eropa terlalu mengandalkan NATO yang dipimpin AS. Padahal, menurut dia, Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu tak dapat menjamin keamanan dan kedaulatan negara-negara di Eropa, termasuk para anggotanya.
[Gambas:Video CNN]
"Hari ini, Eropa belum memiliki alat pertahanan militer untuk bertahan seperti layaknya kekuatan ekonomi dan politik. NATO tidak  akan pernah menjadi alat kedaulatan kita. Itu semua tergantung negara-negara Eropa sendiri bagaimana membangun kedaulatan mereka sendiri. Itu tidak akan terjadi dalam satu jentikan jari," kata Parly dalam wawancara dengan surat kabar Prancis, Le Journal du Dimanche, Senin (2/12).

Dilansir kantor berita Iran, FARS, Parly juga menekankan bahwa negara anggota tidak boleh dipaksa memilik antara NATO atau Eropa. Kata dia, NATO dan Eropa harus saling melengkapi.


Selain Parly, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga telah menyinggung komitmen AS yang dianggap semakin berkurang terhadap NATO.

Macron menganggap di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, ada tanda-tanda jelas bahwa AS "membalikkan punggungnya" pada NATO.

Macron bahkan menganggap NATO menderita "kematian otak".

Pernyataan itu diutarakan Macron menjelang pertemuan tinggi NATO di Inggris pada 3-4 Desember ini.

KTT itu digelar ketika relasi antara Inggris dan AS sedang dalam kondisi yang tidak kondusif, terutama setelah Perdana Menteri Boris Johnson meminta Trump untuk tak mencampuri politik domestik Inggris.

Di waktu bersamaan, Rusia juga terus mendekati NATO dengan cara menjajaki aliansi bilateral dengan Turki, salah satu anggota pakta pertahanan tersebut. (rds/dea)