Dua Roket Hujani Pangkalan Udara AS di Irak

CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 22:26 WIB
Dua roket menghantam pangkalan udara Al-Badad, Baghdad, Irak. Serangan itu diluncurkan setelah AS berencana kirim 7.000 pasukan tambahan untuk lawan Iran. Ilustrasi. (ARUN SANKAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua roket menghantam pangkalan udara Al-Badad, Baghdad, Irak pada Kamis (5/12) dini hari.

Serangan tersebut diluncurkan setelah Amerika Serikat mempertimbangkan mengerahkan 5.000 hingga 7.000 pasukan tambahan di Timur Tengah sebagai upaya melawan Iran.

Dikutip AFP, seorang pejabat AS mengungkapkan serangan yang menggunakan peluncur roket Katyusha itu tidak menyebabkan kerusakan material. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

AS khawatir dengan serangkaian serangan yang diarahkan ke beberapa pangkalan milik militer Irak di mana di sana terdapat 5.200 pasukan AS. Mereka diterjunkan untuk membantu pasukan Irak dalam memerangi jihadis.


Selain pangkalan militer, serangan itu juga menargetkan kantor kedutaan besar AS di Baghdad. "Ada peningkatan pada serangan roket," kata seorang pejabat AS yang diwawancara AFP.

Meski hanya membuat sedikit kerusakan dan tidak menyebabkan korban, namun serangan itu semakin membuat mereka khawatir.

Sebelumnya lima roket diluncurkan ke arah pangkalan udara Al-Asad pada Selasa (3/12) setelah Wakil Presiden AS, Mike Pence, berkunjung ke sana.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian pada bulan lalu, puluhan roket juga diluncurkan ke pangkalan udara Qayyarah di bagian utara Irak. Serangan itu merupakan yang terbesar menghantam sebuah daerah pangkalan yang ditempati pasukan AS selama beberapa bulan terakhir.

Beberapa sumber dari lembaga keamanan menduga faksi Syiah yang dekat dengan Iran dan masuk dalam daftar hitam AS, Kataib Hizbullah, bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Akan tetapi, belum ada klaim pertanggungjawaban terkait serangan itu dan AS sendiri belum menuduh faksi manapun.

Kendati demikian, Sekretaris Negara AS, Mike Pompeo telah menyalahkan serangan serupa pada beberapa kelompok yang dekat dengan Iran.

Iran diketahui memegang kendali besar pada Irak, terutama pada kelompok paramiliter Hashed al-Shaabi yang sebagian besar diisi oleh militan Syiah yang disokong oleh Teheran.

Pasukan AS menganggap kelompok Hashed lebih berbahaya dibanding dengan kelompok ISIS.

Ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir dan menerapkan kembali sanksi ekonomi pada tahun lalu.

Sementara, Irak yang dekat dengan kedua negara itu merasa khawatir terjebak di tengah konflik tersebut. (fls/dea)