Uber Sebut Ribuan Pengguna Mengadu Alami Pelecehan Seksual

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 06:07 WIB
Uber Sebut Ribuan Pengguna Mengadu Alami Pelecehan Seksual Ilustrasi lambang aplikasi Uber. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aplikasi Uber merilis laporan keamanan yang mencakup kekerasan dan pelecehan seksual pada Kamis (5/12) lalu. Uber menyatakan menerima 5.981 laporan kekerasan seksual yang diakumulasikan dari 2017 hingga 2018.

Dari data di atas, disebutkan ada 464 laporan pemerkosaan. Berdasarkan investigasi CNN tentang pelecehan seksual dan kekerasan di pelayanan kendaraan tercatat ada 19 kasus hingga menyebabkan kematian yang terjadi selama 2017 dan 2018.

Dalam laporan itu menyertakan bahwa 45 persen pelapor menuding pemilik akun kendaraan sebagai pihak yang melakukan kekerasan seksual.


"Pengemudi memiliki hal untuk menceritakan pengalaman mereka dan kami memiliki tanggung jawab untuk membela mereka," kata laporan tersebut yang dikutip dari CNN, Minggu (8/12).
Laporan itu menunjukkan bahwa 92 persen dari korban pemerkosaan adalah penumpang dan tujuh persen ialah pengemudi. Kemudian ada 89 persen wanita yang menjadi korban dan delapan persen pria yang menjadi korban.

Sekitar satu persen korban diidentifikasikan sebagai gender minoritas.

Uber membuat tiga kategori jenis lain pelecehan seksual yang terjadi yakni, ciuman tanpa persetujuan, sentuhan tanpa persetujuan dan percobaan perkosaan.

Berdasarkan data tersebut, Uber merilis prediksi terdapat satu kekerasan seksual terjadi di setiap 6 juta perjalanan, dan satu dari setiap 900 ribu perjalanan diperkirakan terjadi insiden sentuhan tanpa persetujuan.

Dari data itu, Uber juga merinci dari setiap 45 wahana yang mereka miliki, terdapat 100 laporan pemerkosaan dan hampir 800 laporan tentang sentuhan terhadap bagian tubuh.

Data-data ini akhirnya dibuka oleh Uber setelah CNN melakukan investigasi bahwa ada 103 pengemudi Uber di Amerika Serikat yang sudah dipecat karena kekerasan seksual atau pelecehan terhadap penumpang empat tahun belakangan. Para pengemudi telah ditahan oleh polisi, atau masih buron dan disebutkan namanya dalam gugatan.

Uber juga mengumumkan langkah untuk memastikan keselamatan penumpang pada 2018. Beberapa di antaranya ialah bekerjasama dengan Rapid SOS.

[Gambas:Video CNN]

Rapid SOS ialah sebuah perusahaan yang dapat membagikan lokasi dan tombol darurat kepala polisi terdekat saat penumpang dalam bahaya.

Aplikasi ini dapat digunakan langsung oleh pengguna di aplikasi Uber. Uber juga melakukan pemeriksaan ulang terhadap latar belakang para pengemudi.

Uber diketahui sudah melantai di bursa saham dan diperingatkan oleh para investor dalam IPO Paperwork mengenai laporan tersebut. Para investor mengatakan laporan tersebut dapat berdampak buruk terhadap citra merek Uber.

"Tanggapan publik mengenai laporan ini atau laporan publik mengenai platform kami dapat berdampak negatif pada pemberitaan dan reputasi kami," kata perusahaan.

Sementara itu, kompetitor Uber, Lyft, juga diseret ke ranah hukum dalam kasus keamanan dan kurangnya terbuka mengenai angka kasus kejahatan seksual dalam berkendara.

Lyft menyatakan bakal merilis data soal keamanan di akhir tahun ini. Isu keselamatan dalam aplikasi berkendara bukan hanya diperuntukkan bagi perusahaan dalam negeri.
Didi Chuxing yang merupakan perusahaan penyedia jasa transportasi terbesar di Cina juga menghadapi masalah serupa. Bahkan mereka sempat didera kasus pembunuhan terhadap dua penumpang perempuan pada tahun lalu 2018.

Pada November lalu, perusahaan itu telah mengumumkan layanan khusus bagi penumpang wanita di atas pukul 20.00 sebagai bentuk solusi dari permasalahan keamanan tersebut. (ctr/ayp)