Seperti dilansir AFP, Selasa (10/12), Dillon mengaku tiga kali diperkosa seorang anggota parlemen dari Partai Buruh pada 1980-an. Orang itu adalah petinggi partai, di mana ayahnya sedang berusaha mencalonkan diri sebagai kandidat ketua pada 1982.
Sayang saat itu Hawke gagal menjadi ketua partai. Namun, beberapa tahun berikutnya dia baru berhasil menduduki jabatan itu dan kemudian terpilih menjadi perdana menteri sampai 1991.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diduga kuat hal ini ada kaitannya dengan harta warisan. Dillon mempersoalkan jatahnya atas rumah Hawke yang ditaksir mencapai US$2,73 juta (sekitar Rp38,2 miliar), tetapi dia hanya menerima US$750 ribu (sekitar Rp10,5 miliar).
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah keterangannya soal peristiwa perkosaan itu juga dianggap tidak konsisten. Saudara Dillon, Sue Pieters-Hawke, mengatakan pihak keluarga sudah mengetahui persoalan itu.
Sue mengatakan ketika itu ayahnya sangat tertekan saat mengetahui anaknya diperkosa oleh rekannya sesama politikus.
"Dia (Dillon) mengatakan kepada beberapa orang saat itu. Saya yakin saat itu dia banyak didukung tetapi tidak menggunakan jalur hukum," kata Sue.