Polisi Hong Kong Lucuti Bom Rakitan Berdaya Ledak Tinggi

CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 15:45 WIB
Polisi Hong Kong Lucuti Bom Rakitan Berdaya Ledak Tinggi Ilustrasi polisi Hong Kong. (Lillian SUWANRUMPHA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Hong Kong menyatakan mereka berhasil menemukan dan melucuti dua bom rakitan berukuran besar yang disembunyikan di sebuah sekolah. Menurut mereka bom rakitan itu juga diisi paku supaya lebih mematikan dan memiliki daya rusak lebih besar.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (10/12), tim penjinak bahan peledak kepolisian Hong Kong menyatakan bom itu sebenarnya sudah siap digunakan. Aparat menyatakan bom rakitan itu terhubung dengan pemicu yang bekerja dengan gelombang radio dan bisa diaktifkan dengan ponsel.
Bom itu berisi 22 kilogram bahan peledak dan serpihan logam serta paku. Efek ledakannya bisa mencapai lebih dari 100 meter.

"Kalau bom itu diledakkan, maka akan membuat kerusakan besar dan banyak jatuh korban," kata petugas senior tim penjinak bahan peledak kepolisian Hong Kong, Alick McWhirter.


Pada Juli lalu, kepolisian Hong Kong menyita bahan peladak tri-acetone tri-peroksida (TATP) seberat 2 kilogram. Bahan itu kerap digunakan dalam membuat bom oleh kelompok ekstremis, termasuk ISIS.

Kepolisian Hong Kong belum menyatakan apakah temuan bom rakitan itu terkait dengan kelompok radikal yang terlibat dalam demonstrasi selama sejak Juli lalu.

[Gambas:Video CNN]

Pada akhir pekan lalu, sekitar 10 ribu orang turun ke jalan memperingati enam bulan aksi unjuk rasa. Aksi itu mulanya berjalan damai, tetapi malah berujung kerusuhan karena kelompok radikal membakar sejumlah toko.

Gerakan pro demokrasi di Hong Kong saat ini tidak terpusat terhadap tokoh tertentu. Mereka pun terbelah antara kelompok yang moderat dan radikal, meski mempunyai tujuan yang sama.

Gejolak itu dipicu pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang saat ini sudah dicabut oleh pemerintah Hong Kong. Namun, kelompok pro demokrasi masih khawatir dengan masa depan mereka jika rezim yang dipimpin Carrie Lam, yang dianggap dikendalikan oleh China, masih berkuasa.
Mereka merasa pemerintah China semakin mengekang kebebasan berpendapat yang dijamin dalam perjanjian penyerahan kedaulatan Hong Kong dari Inggris kepada China pada 1997 silam. (ayp/ayp)