Pengungsi Rohingya Desak Suu Kyi Akui Genosida di ICJ

CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 17:00 WIB
Pengungsi Rohingya Desak Suu Kyi Akui Genosida di ICJ Ilustrasi pengungsi Rohingya. (Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pengungsi etnis Rohingya rupanya turut memantau sidang gugatan terhadap dugaan pembantaian yang dilakukan aparat keamanan Myanmar, yang saat ini sedang digelar di Mahkamah Internasional (ICJ), Den Haag, Belanda. Mereka berharap Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, tidak menyangkal apapun dan menginginkan terbit keputusan yang kuat untuk menghukum para pihak yang bertanggung jawab.

"Suu Kyi tidak perlu menyangkal apa-apa. Warga dunia harus mendengar suara kami karena kami adalah korban yang sebenarnya," kata salah satu tokoh etnis Rohingya yang berada di pengungsian di perbatasan Bangladesh, Sayed Ula, seperti dilansir AFP, Rabu (11/12).
Sidang perdana gugatan itu digelar dengan mendengarkan argumen dari pihak pemohon, yakni Gambia. Mereka menyatakan bertindak atas nama 57 anggota Organisasi Kerja Sama Islam dan meminta Mahkamah Internasional untuk mengambil sikap darurat demi menghentikan kekerasan dan kekejaman terhadap etnis Rohingya.

"Saya ingin melihat para pelaku dihukum. Mereka menghabisi kaum kami tanpa ampun. Saya sudah kehilangan anggota keluarga karena mereka," kata seorang perempuan Rohingya yang menjadi janda, Saida Khatun.


Khatun menyatakan pasukan Myanmar membunuh kedua orang tua, suami, dan tiga anaknya tanpa belas kasih. Dia juga mengaku diperkosa aparat dan kemudian dianaya dengan popor senapan, lalu kepalanya diinjak dan ditendang menggunakan sepatu dinas lapangan.

"Suara anak-anak saya kadang masih terngiang di dalam mimpi. Saya gagal menyelamatkan mereka," ujar Khatun.

[Gambas:Video CNN]

Gambia mengadukan Myanmar ke ICJ atas tuduhan melanggar Konvensi Genosida PBB 1948 melalui operasi militer brutal yang menargetkan minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine.

Myanmar terus menjadi sorotan dunia setelah krisis kemanusiaan yang menargetkan etnis Rohingya dan minoritas Muslim lainnya di Rakhine kembali memburuk pada pertengahan 2017 lalu.

Krisis kemanusiaan itu dipicu oleh operasi militer Myanmar yang ingin meringkus kelompok teroris pelaku penyerangan sejumlah pos keamanan di Rakhine.

Alih-alih menangkap teroris, militer Myanmar disebut malah mengusir, membunuh, hingga memperkosa warga Rohingya di Rakhine. Sejak itu, gelombang pengungsi Rohingya ke perbatasan Bangladesh terus meningkat.
Hingga kini diperkirakan masih ada 1 juta etnis Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di perbatasan Bangladesh seperti Cox's Bazar. (ayp/ayp)