Pemerintahan Gagal Terbentuk, Israel Harus Gelar Pemilu Lagi

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 15:55 WIB
Pemerintahan Gagal Terbentuk, Israel Harus Gelar Pemilu Lagi Ilustrasi pemilihan umum Israel. (MENAHEM KAHANA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Parlemen Israel (Knesset) memutuskan membubarkan diri setelah tenggat yang diberikan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pesaingnya, Benny Gantz, untuk membentuk pemerintahan gagal dipenuhi. Alhasil, mereka kini masuk ke dalam krisis politik dan harus menggelar pemilihan umum untuk ketiga kalinya.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (12/12), kini partai politik di Israel kembali diberi waktu selama tiga bulan untuk berkampanye sebelum menggelar pemilihan umum. Gantz dan Netanyahu juga gagal membentuk pemerintahan bersama usai pemilu 17 September lalu.
Netanyahu yang diusung Partai Likud menetapkan syarat siap membentuk pemerintahan bersama Gantz asalkan dia tetap menjabat sebagai perdana menteri. Namun, Gantz yang memimpin Partai Biru Putih menolak syarat itu.

Apalagi, Netanyahu juga mencoba mempertahankan jabatannya meski dibelit sejumlah kasus korupsi. Dalam aturan hukum Israel, perdana menteri tidak diwajibkan mundur meski dibelit sangkaan tindak kriminal.


"Yang seharusnya kita merayakan demokrasi malah berubah menjadi momen memalukan bagi gedung ini. Hanya ada tiga alasan terkait pemilu, suap, kecurangan dan penyalahgunaan wewenang," kata Ketua Partai Biru Putih, Yair Lapid.

[Gambas:Video CNN]

Netanyahu dijerat dengan dugaan menerima suap dan menyalahgunakan kekuasaan oleh kepolisian dan kejaksaan. Namun, karena parlemen sudah dibubarkan, maka Netanyahu bisa mengajukan permohonan kekebalan hukum.

Karena Netanyahu mengajukan permohonan kekebalan hukum, maka proses persidangannya sementara ditunda.

"Untuk mencegah hal ini terulang, kita hanya harus melakukan satu hal: kita harus menang dan menang besar," kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Twitter.
Partai Likud akan memulai proses konvensi untuk menjaring bakal calon perdana menteri pada 26 Desember mendatang. Sampai saat ini posisi Netanyahu sepertinya belum tergantikan, tetapi seorang politikus senior partai tersebut, Gideon Saar, menyatakan akan menantang dominasi Netanyahu. (ayp/ayp)