Keluarga Bantah Najib Razak Terlibat Pembunuhan Altantuya

CNN Indonesia | Selasa, 17/12/2019 15:00 WIB
Nooryana Najwa Najib, anak perempuan mantan PM Malaysia, Najib Razak, membantah sang ayah terlibat pembunuhan model Altantuya Shaariibuu. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. (ANTARA FOTO/IORA Summit 2017/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nooryana Najwa Najib, anak perempuan mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, membantah kesaksian seorang mantan polisi, Azilah Hadri, terkait kasus pembunuhan seorang model sekaligus penerjemah asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu. Dia mengatakan sang ayah tidak pernah terlibat dalam kasus itu atau memberi perintah untuk menghabisi seseorang.

"Ayah saya bukan pembunuh. Untuk sesaat saya sangat terkejut. Lalu saya pulang ke rumah untuk menelaah bahwa tuduhan tidak berdasar itu hanya untuk menutupi ketidakmampuan sejumlah pihak," kata Najwa dalam unggahan melalui akun Twitter, seperti dilansir Asia One, Selasa (17/12).
Najib sendiri langsung membantah tudingan Azilah tersebut. Lewat akun Facebook, Najib mengatakan itu bagian dari konspirasi.

Mantan perdana menteri yang dikalahkan Mahathir Mohamad dalam pemilu tahun lalu itu menegaskan bahwa ia tidak terkait dengan pembunuhan Altantuyaa.


Situs berita Malaysiakini menuliskan bahwa Azilah Hadri mengaku diperintah Najib untuk "menangkap dan menghancurkan" Altantuyaa pada Oktober 2006. Ketika itu Najib masih menjabat wakil perdana menteri.

Dikutip dari Channel NewsAsia, pernyataan itu dibuat Azilah dalam surat peninjauan kembali (PK) kepada Pengadilan Federal, Senin (16/12). Dalam surat itu dia meminta agar pengadilan meninjau kembali keputusan hukuman mati yang dijatuhkan.

Azilah mengatakan Najib meminta Altantuyaa dibunuh karena dianggap sebagai mata-mata asing dan mengancam keamanan nasional.

Menurut Azilah, perintah pembunuhan itu disampaikan Najib saat mereka bertemu. Najib mengatakan kepadanya untuk menembak model itu sambil membuat gerakan menggorok leher.

Kata dia, Najib juga memerintahkan agar jenazah Altantuyaa diledakkan.

"Tujuan saya untuk mengungkap bukti dan fakta material [dari kasus ini] bukan hanya karena saya merasa telah dikhianati oleh pihak yang berkepentingan tetapi juga untuk mengungkapkan kebenaran tentang apa yang terjadi dalam pembunuhan Altantuyaa," kata Azilah dikutip dari South China Morning Post.

[Gambas:Video CNN]

Azilahh dan rekannya Sirul Azhar dijatuhi vonis hukuman mati di Pengadilan Tinggi pada 2009.

Kemudian pada 2015, pengadilan banding tertinggi Malaysia menguatkan putusan bersalah dan hukuman mati tersebut.

Altantuyaa disebut bekerja sebagai penerjemah dan menjalin hubungan asmara dengan rekan dekat Najib, Abdul Razak Baginda.

Abdul Razak juga dikenal sebagai pengusaha dan memimpin lembaga Riset Strategis Malaysia, yang sangat dekat dengan Partai Persatuan Organisasi Nasional Melayu (UMNO). Perusahaan milik Razak, Perimekar Sdn. Bhd., ditunjuk sebagai pihak yang akan melakukan pembayaran kapal selam tersebut.

Dia disebut sempat menemani Abdul Razak dalam perjalanan bisnis ke Macau.

Abdul Razak disebut terlibat dalam skandal korupsi pembelian kapal selam buatan perusahaan Prancis, DCN. Altantuya diduga mengetahui banyak soal proyek itu.

Altantuya lantas dilaporkan hamil dan meminta Razak bertanggung jawab. Dia mengancam bakal membongkar skandal itu jika Razak mengabaikan tuntutannya.

Sebelum tewas, Altantuyaa dilaporkan hilang. Polisi kemudian menemukan bagian tubuhnya di dekat bendungan bersama sisa bahan peledak. Penyelidik menyimpulkan dia ditembak dua kali dan tubuhnya diledakkan.
Azilah adalah satu dari dua polisi yang diadili bersama Abdul Razak dan dituduh melakukan pembunuhan.

Pengadilan membebaskan Abdul Razak, tetapi menghukum Azilahhh dan Sirul dengan hukuman mati. (ayp/ayp)