LAPORAN DARI MALAYSIA

Menteri Malaysia Perjuangkan Pendidikan Kelompok Difabel

CNN Indonesia | Selasa, 17/12/2019 00:37 WIB
Menteri Malaysia Perjuangkan Pendidikan Kelompok Difabel Ilustrasi kaum difabel. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendidikan bagi kaum penyandang cacat (difable) terus menjadi perhatian pemerintah Malaysia. Menurut Menteri Pendidikan Malaysia, Dr Maszlee Bin Malik, pemerintah memang bertanggung jawab untuk membantu mereka supaya tidak merasa terpinggirkan dan menjadi bagian dari visi dan misi pendidikan menyeluruh yang diusungnya saat ini.

"Kita tidak bisa mengabaikan kelompok dengan kemampuan yang berbeda ini. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang sama," kata Maszlee saat diwawancara dengan CNNIndonesia.com di Putrajaya, Malaysia, Jumat pekan lalu.

Maszlee mengatakan pendidikan bagi kelompok penyandang cacat tidak bisa disamakan dengan mereka yang normal. Namun, pemerintah Malaysia tetap menerapkan batas persyaratan yang harus dipenuhi.


"Mereka juga tidak boleh dibedakan. Kita tempatkan mereka dalam satu ruangan dengan pelajar lain yang normal supaya mereka tidak merasa tersisih," ujar Maszlee.
Menteri Pendidikan Malaysia, Dr. Maszlee Bin Malik. (CNN Indonesia/Aryo Putranto Saptohutomo)
Hal ini, kata Maszlee, diharapkan menjadi cara untuk melatih empati pelajar lain yang memiliki kemampuan yang normal terhadap mereka yang merupakan penyandang cacat. Selain itu, hal itu bertujuan untuk menumbuhkan solidaritas di antara para pelajar dan saling menerima perbedaan.

Libatkan Industri

Pemerintah Malaysia juga mencoba merangkul kalangan industri dan swasta untuk membuka jalan bagi kelompok difabel untuk bisa berkarir. Sebab, hal itu yang selama ini dianggap belum tersentuh.

"Kami bertanggung jawab untuk bisa mengantarkan dan memastikan mereka untuk bisa berkarya atau menghidupi diri sendiri bahkan orang lain," kata Maszlee.

[Gambas:Video CNN]

Maszlee menyatakan beberapa perusahaan sudah mulai membuka diri dengan menerima kelompok difabel untuk berkarier di perusahaan mereka. Dia berharap kerja sama itu bisa berlanjut dan semakin membuka peluang bagi kalangan difabel bekerja di lembaga negara atau swasta. (ayp/ayp)