Iran-Turki Desak Negara Muslim Lawan Dominasi Ekonomi AS

CNN Indonesia | Sabtu, 21/12/2019 16:18 WIB
Presiden Iran, Hassan Rouhani, meminta seluruh negara Muslim untuk melawan dominasi ekonomi AS. Presiden Iran, Hassan Rouhani, meminta seluruh negara Muslim untuk melawan dominasi ekonomi AS. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Iran, Hassan Rouhani, meminta seluruh negara Muslim untuk melawan dominasi Amerika Serikat yang dia sebut sebagai 'terorisme ekonomi'. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengusulkan negara-negara Muslim melakukan perdagangan bebas dengan mata uang masing-masing

Hal itu mereka sampaikan dalam pidato pembukaan Muslim Summit di Kuala Lumpur, Malaysia.

"Rezim ekonomi Amerika Serikat dan upaya dollarisasi sistem ekonomi nasional dan global membuat AS memiliki peluang untuk melanjutkan hegemoni mereka dengan ancaman sanksi dan terorisme ekonomi," kata Rouhani di Kuala Lumpur, seperti dilansir AFP, Jumat (20/12).


Rouhani mengusulkan supaya seluruh negara yang berasas atau berpenduduk mayoritas Islam supaya bekerja sama untuk saling menjaga dan melawan dominasi ekonomi AS.

Rouhani mengusulkan supaya negara-negara Muslim membentuk sebuah bank sentral sebagai bentuk kerja sama dan merambah dunia mata uang digital bersama-sama. Dia menyatakan negara-negara Muslim bisa bahu membahu membangun dari berbagai sektor, mulai dari perbankan hingga industri wisata.

AS kembali menjatuhkan sanksi dan embargo ekonomi terhadap Iran pada 2018 setelah Presiden Donald Trump memutuskan mundur dari perjanjian kesepakatan pelucutan senjata nuklir 2015 (Joint Comprehensive Plan Of Action/JCPOA). Alasan Trump mengambil kebijakan itu adalah dengan menuduh Iran melanjutkan program peluru kendali dan terlibat dalam sejumlah konflik di dunia, seperti Suriah dan Yaman.

Sejak itu perekonomian Iran cukup terpukul dan menyebabkan nilai tukar mata uang mereka anjlok. Hal itu mengakibatkan inflasi yang tak terkendali.

[Gambas:Video CNN]

Malaysia Muslim Summit akan membahas sejumlah topik hangat yang sedang terjadi terkait dunia Islam. Antara lain soal permasalahan etnis Rohingya hingga etnis Uighur, serta berbagai konflik di dunia.

Erdogan juga menyarankan hal yang sama. Dia mengusulkan supaya negara Muslim mengurangi ketergantungan terhadap mata uang Dollar AS.

Erdogan juga meminta banyak negara Muslim untuk tidak ragu melakukan perdagangan yang bebas dari tekanan.

"Ketimbang melakukan perdagangan dengan valuta asing, kami ingin melakukan perdagangan dengan mata uang kami. Kami sedang mengembangkan sistem pembayaran alternatif dengan sejumlah negara seperti Rusia, China dan Brasil," kata Erdogan.

Nilai mata uang Turki, Lira, anjlok tahun lalu ketika terlibat perseteruan dengan AS. Hal itu menjadi salah satu krisis ekonomi yang terparah yang dihadapi Erdogan. (ayp/ayp)